Lewat Pertemuan Rahasia di Baghdad, Hubungan Arab Saudi dan Iran Akhirnya Mulai Mencair
Jadi Musuh Bebuyutan Selama Bertahun-tahun, Hubungan Arab Saudi dan Iran Akhirnya Mulai Mencair
Pembicaraan di Baghdad, yang difasilitasi Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi, tetap dirahasiakan sampai Financial Times melaporkan pertemuan pertama telah diadakan pada 9 April.
Seorang pejabat pemerintah Irak mengkonfirmasi pembicaraan itu dengan kantor berita AFP, sementara seorang diplomat Barat mengatakan dia telah diberi pengarahan sebelumnya tentang upaya menengahi hubungan yang lebih baik dan mengurangi ketegangan (Saudi dan Iran).
Riyadh secara resmi membantah pembicaraan di media yang didukung pemerintah, sementara Teheran belum berkomentar.
Pejabat Iran hanya menegaskan pihaknya selalu menyambut dialog dengan Arab Saudi.
Inisiatif ini muncul pada saat dinamika kekuatan bergeser ketika Presiden AS Joe Biden berusaha menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang compang-camping yang ditinggalkan Donald Trump.
Arab Saudi dan Iran telah mendukung sisi berlawanan dari beberapa konflik regional dari Suriah hingga Yaman, di mana koalisi yang dipimpin Saudi memerangi pemberontak Houthi.
Baca juga: Kronologi Kapal Patroli AS USS Firebolt Lepaskan Tembakan Peringatan ke Kapal Iran di Teluk Persia
Baca juga: AS Melunak, Buka Opsi Cabut Sanksi Terhadap Iran terkait Perjanjian Nuklir 2015
Mengkalibrasi Ulang Hubungan Bilateral
Pangeran Mohammed juga mengatakan Riyadh dan Washington tetap menjadi mitra strategis meskipun ada ketidaksepakatan tentang masalah tertentu.
Tetapi juga menekankan keengganan negaranya untuk menerima tekanan atau campur tangan dalam urusan internalnya.
"Kami lebih dari 90 persen setuju dengan pemerintahan Biden dalam hal kepentingan Saudi dan AS dan kami bekerja untuk memperkuat kepentingan ini," kata MBS.
"Hal-hal yang tidak kami sepakati mewakili kurang dari 10 persen dan kami sedang bekerja untuk menemukan solusi dan pemahaman ... Tidak ada keraguan bahwa Amerika Serikat adalah mitra strategis," tambahnya.
Biden telah menjelaskan pemerintahannya sedang mengkalibrasi ulang hubungan AS dengan Arab Saudi setelah empat tahun masa hangat dengan pemerintahan Trump.
Di antara keputusan pertama Biden adalah memerintahkan diakhirinya dukungan AS untuk perang yang dipimpin Saudi di Yaman.
Biden juga merilis laporan intelijen AS kasus yang melibatkan Putra Mahkota dalam pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi pada 2018. Tetapi tidak memberikan hukuman langsung kepadanya.
Laporan tersebut memperkuat temuan investigasi (PDF) yang berakhir pada Juni 2019 oleh mantan pelapor khusus PBB terkait pembunuhan di luar hukum, Agnes Callamard.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/houthi-ancam-serang-situs-penting-israel-langsung-perkuat-militer-di-wilayah-selatan.jpg)