Erupsi Gunung Merapi
BPPTKG : Aktivitas Gunung Merapi Tergolong Fluktuatif, Lahar Hujan Sempat Terpantau di Hulu Sungai
Hingga saat ini, erupsi material vulkanik mayoritas mengarah ke barat daya. Sedangkan material yang menuju tenggara tergolong sangat minim.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yuwantoro Winduajie
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Status Gunung Merapi masih Siaga sejak 5 November 2020 lalu.
Hingga saat ini aktivitas gunung setinggi 2.968 mdpl tersebut masih tergolong fluktuatif.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida menuturkan, erupsi awan panas dan guguran material masih kerap terjadi.
Demikian pula dengan aktivitas kegempaan yang masih tergolong tinggi, terutama gempa guguran.
Baca juga: UPDATE Gunung Merapi, Guguran Lava Pijar Terjadi Sebanyak 11 Kali, Jarak Luncur Hingga 900 Meter
"Kegempaan guguran masih mendominasi sedangkan kegempaan internal seperti VB (vulkanik dangkal) dan MP masih sangat minim. Atau mungkin beberapa hari yang lalu ada gempa (internal), tapi untuk ukuran gunung merapi relatif kecil," jelasnya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Rabu (21/4/2021).
Lebih jauh, Hanik menjelaskan, kubah lava Gunung Merapi terus mengalami pertumbuhan.
Hanik menyebut ada dua tubuh kubah lava yang terus mengalami peningkatan volume.
Yakni kubah lava sisi tengah dan kubah di sisi barat daya.
"Jadi dua duanya masih aktif untuk pertumbuhan kubah lavanya. Volumenya untuk (kubah) barat daya 1,2 juta meter kubik yang tengah 1,6 jutaan," bebernya.
Hingga saat ini, erupsi material vulkanik mayoritas mengarah ke barat daya.
Sedangkan material yang menuju tenggara tergolong sangat minim.
"Aktivitas ke tenggara ada sesekali saja tapi dominasi masih ke barat daya," jelasnya.
Menimbang hasil pengamatan itu, BPPTKG belum mengubah status maupun potensi dan radius bahaya Gunung Merapi.
Baca juga: Aktivitas Merapi Terkini : Tiga Awan Panas Guguran Terjadi Pada Selasa Subuh hingga Pagi Ini
Yakni berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.