Buah Bibir

BUAH BIBIR - Denisa Aulia Fahira Pelajari Empat Bahasa Asing

Denisa Aulia Fahira tak hanya menguasai satu atau dua bahasa, melainkan 5 hingga 6 dalam tingkat kemahiran berbeda.

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Denisa Aulia Fahira 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menguasai beberapa bahasa adalah keterampilan yang jarang dimiliki setiap orang.

Namun, Denisa Aulia Fahira, tak hanya menguasai satu atau dua bahasa, melainkan 5 hingga 6 dalam tingkat kemahiran berbeda.

Dara kelahiran Batam, 8 Mei 2000 ini sejak remaja tekun mempelajari bahasa Mandarin, Jepang, Jerman, dan Korea.

Selain tentunya bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional.

Baca juga: BUAH BIBIR : Gloria Setyvani Putri Geluti Profesi Wartawan, Ibarat Sekolah Gratis

Bahkan, meskipun sama sekali tak memiliki darah keturunan Tionghoa, peserta Koko Cici Jogja 2020 ini masih aktif mendalami bahasa Mandarin hingga kini.

Awalnya, Denisa mempelajari bahasa Mandarin justru dari suatu keisengan.

"Iseng aja diajak teman mama untuk belajar bahasa Mandarin. Di Batam bahasa Mandarin adalah bahasa yang umum," benernya.

Semakin lama, Denisa semakin merasakan pentingnya menguasai bahasa Mandarin. Ia pun turut menekuni budaya Tionghoa.

Seiring waktu, ketertarikannya berkembang untuk mempelajari bahasa lain yang serumpun. Yaitu Jepang dan Korea. "Ngikuti yang serumpun ini ternyata enggak susah. Pengetahuan kita juga bertambah," ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM ini.

Baca juga: BUAH BIBIR : Bermula dari Masalah Kulit, Sharavasti Sukses Tekuni Bisnis Bodycare dan Skincare

Denisa menuturkan, dirinya mulai mempelajari bahasa Mandarin sejak SMP. Sementara, Jepang dan Jerman saat SMA, serta bahasa Korea saat kuliah.

"Belajar bahasa Korea karena pengin study exchange ke sana dengan program beasiswa. Kalau bisa menguasai bahasanya bisa dapat (beasiswa) lebih besar," ungkapnya.

Menurut Denisa, kesulitan mempelajari beberapa bahasa adalah sering tercampur antara beberapa bahasa dalam penggunaannya.

Sebagai solusi, ia berusaha dengan banyak mempraktikkan bahasa tersebut dengan para native speaker.

Sebagaimana yang pernah dilakukannya pada 2017 lalu dengan mengikuti Winter Camp di Tiongkok.

"Kalau diterapkan di negaranya ternyata lebih PD daripada di luar. Selain itu berlatih dengan membaca buku, koran, setiap tahun ikut lomba bahasa Mandarin," tandasnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved