Yogyakarta

Dekranasda Kabupaten Pringsewu Lampung Jajaki Kerjasama dengan BBKB Yogyakarta

keberadaan BBKB juga memiliki peran yang penting dalam mengembangkan dan menumbuhkan IKM kerajinan dan batik  Indonesia.

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Kegiatan kunjungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pringsewu, Lampung ke Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta, Senin (15/3/2021) kemarin. 

TRIBUNJOGJA.COM - Guna menjalin kerjasama pelatihan membatik bagi perajin batik, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pringsewu, Lampung  berkunjung ke Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta, Senin (15/3/2021) kemarin.

Rombongan yang berjumlah 10 orang tersebut diterima oleh Kepala BBKB, Titik Purwati Widowati beserta pejabat lainnya.

Dalam kata sambutannya Kepala BBKB menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas kunjungan dan rencana kerjasama pelatihan membatik dari Dekranasda Kabupaten Pringsewu, sehingga keberadaan BBKB semakin dikenal dan perannya dapat dirasakan oleh berbagai institusi/lembaga, akademisi dan perajin serta masyarakat luas.

BBKB merupakan Unit Pelayanan Publik (UPT) di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri, Kementerian Perindustrian yang merupakan institusi  yang fokus dalam industri kerajinan dan batik.

Baca juga: Balai Besar Kerajinan dan Batik Gelar Temu Pelanggan, Tingkatkan Daya Saing Industri Perhiasan

"Untuk itu BBKB siap melakukan sinergi dengan berbagai stakeholder guna melaksanakan tugas yaitu melaksanakan kegiatan perekayasaaan, pengembangan teknologi, kerjasama, standardisasi, pengujian, sertifikasi, kalibrasi dan pengembangan kompetensi industri kerajinan dan batik," ujar Titik Purwati Widowati.

Di samping itu, lanjut Titik, keberadaan BBKB juga memiliki peran yang penting dalam mengembangkan dan menumbuhkan IKM kerajinan dan batik  Indonesia.

Peranan tersebut juga dibuktikan dengan diakuinya Yogyakarta sebagai kota batik dunia.

Sekadar informasi, (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menilai industri batik nasional mampu beradaptasi dan berinovasi di tengah pandemi COVID-19 sehingga mampu bertahan, bahkan mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN). 

Di tengah masa sulit seperti saat ini, industri batik memunculkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan kinerja usahanya. 

Tumbuhnya industri tersebut perlu untuk tetap menjaga kualitas produknya, peningkatan volume produk, serta menekan dampak dari proses pewarnaan terhadap kualitas air di sekitar lokasi produksi. 

Di tengah pandemi, industri kecil menengah (IKM) batik membuat produk sesuai preferensi pasar.

Baca juga: Balai Besar Kerajinan dan Batik Komitmen Perkuat Mutu Infrastruktur Industri Kerajinan dan Batik

Industri ini juga cepat melakukan diversifikasi produk dengan membuat masker dan sajadah.

Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Doddy Rahadi, menyampaikan bahwa batik sebagai simbol kebudayaan nasional menyusul pengukuhan oleh UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage of Humanity).

Artinya, batik menjadi tanggung jawab semua pihak khususnya Kemenperin dalam mendongkrak industri batik nasional.

Kemenperin terus meningkatkan kompetensi SDM industri batik, mendorong peningkatan kualitas produk batik, memfasilitasi dan memperkuat branding serta kerja sama.

Batik merupakan bagian industri tekstil dan busana, menjadi salah satu sektor prioritas dalam implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved