Balai Besar Kerajinan dan Batik Komitmen Perkuat Mutu Infrastruktur Industri Kerajinan dan Batik

Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) sebagai satu di antara Unit Kerja di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI)

Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Kurniatul Hidayah
Tangkapan Layar
Kepala BBKB, Ir Titik Purwati Widowati pada kegiatan bimtek SNI ISO 9001:2015 untuk sektor industri kerajinan dan batik secara daring, 23-25 Februari 2021 lalu. 

TRIIBUNJOGJA.COM - Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) sebagai satu di antara Unit Kerja di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) menyelenggarakan bimtek SNI ISO 9001:2015 untuk sektor industri kerajinan dan batik secara daring, 23-25 Februari 2021 lalu.

Acara bimtek ini secara resmi dibuka oleh Menteri Perindustrian dan diselenggarakan serentak secara Nasional oleh 24 Satuan Kerja BSKJI dan diikuti oleh sekitar 1.200 peserta industri dari seluruh Indonesia. Diikuti  peserta dengan berbagai latar belakang sektor industri, dari Banda Aceh sampai Ambon.

Pelaksanaan bimtek tersebut sekaligus menandai transformasi Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) menjadi Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI).  

Baca juga: Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo Ajak Warga Agar Tidak Takut Disuntik Vaksin Covid-19 

"Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) di Yogyakarta terus berusaha mendorong daya saing industri kerajinan dan batik di masa pandemi ini salah satunya dengan menyelenggarakan BIMTEK SNI ISO 9001:2015," ujar Kepala BBKB, Ir Titik Purwati Widowati.

"Bimbingan Teknis ini diselenggarakan secara virtual melalui media zoom dan diikuti sekitar 70 industri dari sektor batik, kerajinan, perhiasan, alat olahraga dan mainan anak. Peserta Bimtek sangat antusias dan menyambut baik pelaksanaan acara ini. Secara umum perusahaan peserta bimtek sudah menerapkan prinsip - prinsip  sistem manajemen mutu, namun masih belum update dengan SNI ISO 9001:2015," tambahnya.

Penerapan SNI Sistem Manajemen Mutu dapat mendukung perusahaan industri dalam membangun budaya kerja yang kondusif dan optimal dalam mewujudkan tujuan bisnisnya.

SNI Sistem Manajemen Mutu jangan dipandang sebagai pekerjaan tambahan yang memberatkan.

SNI ini membantu perusahaan untuk dapat menjaga konsistensi secara berkelanjutan dalam proses pemantauan dan pengukuran kinerja.  

Kegiatan yang diselenggarakan BBKB ini sejalan dengan komitmen Kementerian Perindustrian yang terus mendukung peningkatan daya saing industri guna memacu produktivitas dan pertumbuhan ekonomi nasional yang berkualitas.

Salah satu faktor utama penentu daya saing tersebut adalah kualitas infrastruktur mutu.

Baca juga: Asah Bakat di Usia Remaja, Bisa Coba Belajar Percaya Diri dengan Ikut Kelas Privat Modeling

Pembangunan infrastruktur mutu melalui penerapan standar di tingkat nasional diharapkan mampu menciptakan pasar yang kondusif bagi produk-produk dalam negeri, sekaligus melindungi pasar domestik dari produk bermutu rendah

Satu di antara standar mutu paling mendasar yang diharapkan dapat diterapkan oleh industri nasional adalah SNI ISO 9001:2015, atau lebih dikenal sebagai Sistem Manajemen Mutu (SMM).

SNI tersebut secara global telah diakui sebagai pondasi dasar infrastruktur mutu sebuah organisasi, termasuk perusahaan industri.

Hingga saat ini, Kementerian Perindustrian telah menetapkan 120 SNI produk industri untuk 356 Nomor Pos Tarif yang wajib memberlakukan SNI.

Adapun produk industri yang dimaksud mencakup sektor hasil perkebunan, agro, kimia hulu dan hilir, bahan galian non logam, tekstil, alas kaki, permesinan, alat transportasi, elektronika, logam dan produk IKM seperti mainan dan korek api gas. (han)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved