Human Interest Story

Sopir Ambulans di Klaten Sulap Ban Mobil Bekas Jadi Akuarium Bernilai Jual Tinggi

Siapa sangka, tangan dingin pria berusia 37 tahun itu mampu menyulap ban mobil bekas yang tidak bernilai diolah menjadi sebuah akuarium yang

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan
Dwi Hartono saat memberi makan ikan hias di akuarium yang terbuat dari ban bekas di rumahnya di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Senin (15/3/2021). 

Ternyata, respon pasar cukup bagus dan para pemesan pun berdatangan dari berbagai wilayah seperti Cimahi, Bandung, Bogor, Jakarta, Solo, Salatiga hingga Yogyakarta.

"Saat mulai banyak pesanan, para tentangga yang nganggur atau kena PHK selama pandemi Covid-19 saya ajak gabung untuk produksi. Alhamdulillah mereka senang dan kami sama-sama memproduksinya di rumah saya ini," ujarnya.

Mantan guru honorer di sebuah Sekolah Dasar (SD) di daerah Kecamatan Jogonalan, Klaten itu menambahkan, jika akuarium yang ia jual memiliki nilai yang cukup beragam sesuai dengan ukuran.

Untuk ukuran kecil, ia jual senilai Rp600.000. Sementara untuk ukuran sedang dipatok Rp800.000 dan ukuran besar senilai Rp1.000.000.

"Setiap akuarium yang kita jual itu sudah komplit dengan mejanya, ikan hias dan segala perlengkapan lainnya," ungkapnya.

Masih menurut Dwi Hartono, hingga saat ini, pihaknya telah memproduksi sekitar 120 akuarium yang telah dipasarkan kepada para pemesannta tersebut.

Baca juga: Vaksin Covid-19 di Bantul Akan Kadaluarsa Pada Mei 2021, Begini Penuturan Jubir Pemda DI Yogyakarta

Selain itu, pihaknya saat ini juga sedang mengerjakan sekitar 20 akuarium yang dipesan oleh konsumen asal Yogyakarta, Solo dan Salatiga.

Ia menjelaskan, dalam satu hari pihaknya bisa memproduksi 5 akuarium.

"Kita masih pakai alat-alat sederhana. Kalau alatnya sudah canggih mungkin bisa semakin dikebut," ulasnya.

Sementara itu, seorang pekerja akuarium dari ban bekas Ikhsan Afandi (20) mengaku sangat terbantu dengan adanya pembuatan akuarium dari ban bekas itu.

"Saya sangat terbantu kerja disini. Dulunya saya tukang sablon kaos, tapi usaha gulung tikar akibat diterjang pandemi Covid-19. Selama pandemi dapat penghasilan murni dari sini," ucapnya.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved