Human Interest Story

Sopir Ambulans di Klaten Sulap Ban Mobil Bekas Jadi Akuarium Bernilai Jual Tinggi

Siapa sangka, tangan dingin pria berusia 37 tahun itu mampu menyulap ban mobil bekas yang tidak bernilai diolah menjadi sebuah akuarium yang

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan
Dwi Hartono saat memberi makan ikan hias di akuarium yang terbuat dari ban bekas di rumahnya di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Senin (15/3/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Terjangan pandemi Covid-19 sejak satu tahun terakhir di Indonesia termasuk Kabupaten Klaten tidak melulu membenamkan kreativitas.

Buktinya, Dwi Hartono warga Dusun Cabakan, Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Siapa sangka, tangan dingin pria berusia 37 tahun itu mampu menyulap ban mobil bekas yang tidak bernilai diolah menjadi sebuah akuarium yang memiliki nilai jual hingga jutaan rupiah.

Nono, begitu dia karib disapa menceritakan kreativitas membuat akuarium dari ban mobil bekas yang ia lakukan tersebut.

Baca juga: UPDATE Covid-19 DI Yogyakarta: Bertambah 140 Kasus, 3 Pasien Dilaporkan Meninggal Hari Ini

Menurut dia, ide awalnya bermula sejak Maret 2020 yang lalu.

Saat itu, pandemi Covid-19 baru muncul di Indonesia dan Kabupaten Klaten.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di mana-mana.

Termasuk kepada belasan tetangganya yang berada di Dusun Cabakan, Desa Sengon, Kecamatan Prambanan.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ambulans di salah satu klinik swasta di Klaten itu berfikir keras untuk membuat sesuatu agar mendapatkan penghasilan tambahan dan bisa membantu para tetangganya itu.

"Suatu sore di akhir Maret 2020 saya duduk di depan rumah. Melihat ada dua ban mobil bekas tergeletak. Lalu terlintas fikiran mencoba membuat akuarium dari ban bekas itu," ujar Dwi Hartono saat ditemui Tribun Jogja di kediamannya, Senin (15/3/2021).

Dwi Hartono saat membuat akuarium dari ban bekas di rumahnya di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Senin (15/3/2021).
Dwi Hartono saat membuat akuarium dari ban bekas di rumahnya di Desa Sengon, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Senin (15/3/2021). (TRIBUNJOGJA/ Almurfi Syofyan)

Ia mengatakan, saat mula-mula membuat akuarium dari ban bekas itu, dirinya mendapatkan banyak kesulitan.

Butuh lima kali ujicoba hingga akhirnya dirinya sukses membuat akuarium dari ban mobil bekas tersebut.

"Awalnya ada kendala di pengeleman. Saat itu lem tidak merekatkan ban dan kaca, lima kali saya gonta ganti lem dan kaca hingga akhirnya bisa merekat dengan sempurna," jelasnya.

Ketika pembuatan pertama telah selesai, ia pun iseng menjual akuarium dari ban mobil bekas yang diberinama akuabantik tersebut melalui sejumlah media sosial.

Akuabntik yang ia pasarkan dilengkapi dengan lampu, meja dan beragam pernak-pernik akuarium lainnya.

Ternyata, respon pasar cukup bagus dan para pemesan pun berdatangan dari berbagai wilayah seperti Cimahi, Bandung, Bogor, Jakarta, Solo, Salatiga hingga Yogyakarta.

"Saat mulai banyak pesanan, para tentangga yang nganggur atau kena PHK selama pandemi Covid-19 saya ajak gabung untuk produksi. Alhamdulillah mereka senang dan kami sama-sama memproduksinya di rumah saya ini," ujarnya.

Mantan guru honorer di sebuah Sekolah Dasar (SD) di daerah Kecamatan Jogonalan, Klaten itu menambahkan, jika akuarium yang ia jual memiliki nilai yang cukup beragam sesuai dengan ukuran.

Untuk ukuran kecil, ia jual senilai Rp600.000. Sementara untuk ukuran sedang dipatok Rp800.000 dan ukuran besar senilai Rp1.000.000.

"Setiap akuarium yang kita jual itu sudah komplit dengan mejanya, ikan hias dan segala perlengkapan lainnya," ungkapnya.

Masih menurut Dwi Hartono, hingga saat ini, pihaknya telah memproduksi sekitar 120 akuarium yang telah dipasarkan kepada para pemesannta tersebut.

Baca juga: Vaksin Covid-19 di Bantul Akan Kadaluarsa Pada Mei 2021, Begini Penuturan Jubir Pemda DI Yogyakarta

Selain itu, pihaknya saat ini juga sedang mengerjakan sekitar 20 akuarium yang dipesan oleh konsumen asal Yogyakarta, Solo dan Salatiga.

Ia menjelaskan, dalam satu hari pihaknya bisa memproduksi 5 akuarium.

"Kita masih pakai alat-alat sederhana. Kalau alatnya sudah canggih mungkin bisa semakin dikebut," ulasnya.

Sementara itu, seorang pekerja akuarium dari ban bekas Ikhsan Afandi (20) mengaku sangat terbantu dengan adanya pembuatan akuarium dari ban bekas itu.

"Saya sangat terbantu kerja disini. Dulunya saya tukang sablon kaos, tapi usaha gulung tikar akibat diterjang pandemi Covid-19. Selama pandemi dapat penghasilan murni dari sini," ucapnya.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved