Menristek Sebut Riset Sains Kala Pandemi Harus Lebih Fleksibel dan Cepat

Riset untuk mendukung penanganan Covid-19 tidak hanya terkait dengan vaksin dan obat, tetapi juga terapi, pencegahan, skrining, testing, dan alat

Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Kurniatul Hidayah
Tangkapan Layar
Menteri Ristek/Kepala BRIN, Prof Bambang Brodjonegoro, dalam diskusi bertajuk “Pandemi Covid-19 Ubah Riset Sains di Indonesia?” yang diselenggarakan oleh The Conversation Indonesia dan Direktorat Pengembangan Usaha dan Inovasi (DitPUI) UGM, Kamis (4/3/2021) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pandemi Covid-19 telah memaksa komunitas peneliti sains dan medis di Indonesia untuk secara cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat dan pemangku kepentingan. Selain itu, komunitas sains dituntut lebih fleksibel dan transparan. 

Transparansi itu dibutuhkan agar masyarakat dapat memahami dan terbuka terhadap berbagai karya inovasi sekaligus tidak berharap berlebihan tentang kegunaan suatu inovasi.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan oleh The Conversation Indonesia dan Direktorat Pengembangan Usaha dan Inovasi (DitPUI) UGM pada Kamis (4/3/2021).

Pada diskusi bertajuk “Pandemi Covid-19 Ubah Riset Sains di Indonesia?” tersebut, Menteri Ristek/Kepala BRIN Prof Bambang Brodjonegoro, mengatakan pandemi Covid-19 telah menjadi disrupsi bagi dunia penelitian sains di Indonesia. 

Baca juga: UPDATE Covid-19 DI Yogyakarta: Bertambah 175 Kasus, Tak Ada Pasien yang Dilaporkan Meninggal

Sejak awal Maret tahun lalu, Kemristek/BRIN mengarahkan dan mengelola berbagai aspek sumber daya terkait riset sains, medis, dan sosial humaniora di Indonesia sebagai upaya penanganan Covid-19. 

Riset untuk mendukung penanganan Covid-19 tidak hanya terkait dengan vaksin dan obat, tetapi juga terapi, pencegahan, skrining, testing, dan alat kesehatan.

“Perbedaan utama riset pra-pandemi dan pandemi itu adalah terkait dengan batas waktu. Riset pra-pandemi bersifat eksploratif, dan kadang-kadang tidak bisa ditentukan apakah sesuai dengan harapan. Tapi pandemi mengandung unsur mendesak sehingga para peneliti berkejaran dengan waktu,” terang Bambang. 

Selain itu, selama ini riset sains belum tentu terhilirisasi ke masyarakat dan terkomersialkan dengan maksimal.

Terdapat kolaborasi antara komunitas peneliti dari berbagai universitas, diaspora Indonesia, dan lembaga penelitian, institusi pemerintah seperti Kemenkes dan BPOM, dan industri yang mau melakukan produksi. Kolaborasi itu dikelola oleh Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19.

Melalui konsorsium tersebut, kegiatan riset terkait Covid-19 dari hulu ke hilir dapat lebih terorganisir dan dilakukan dalam waktu lebih cepat.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono, mengatakan UGM saat ini sedang mempercepat uji ventilator ICU dan produksi massal GeNose C19. 

“Kami perlu bekerja sama dengan investor untuk percepatan produksi massal,” ungkapnya. 

Kampus memilki kemampuan penelitian dan inovasi untuk melakukan penemuan baru. Persoalannya ada pada tahap hilirisasi hasil-hasil riset. 

Hasil riset perlu diambil alih oleh industri agar tercipta komersialisasi. Dengan adanya pandemi Covid-19, kolaborasi itu justru mempercepat proses riset.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved