Harga Cabai Melambung Saat Pandemi, Pedagang di Gunungkidul Pilih Kurangi Stok
Harga sejumlah jenis cabai di Kabupaten Gunungkidul terpantau melambung akhir-akhir ini.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Harga sejumlah jenis cabai di Kabupaten Gunungkidul terpantau melambung akhir-akhir ini.
Lonjakan paling kentara terjadi pada cabai rawit yang menembus hingga Rp 120 ribu per kilogram.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Gunungkidul, Yuniarti Ekoningsih membenarkan adanya lonjakan harga tersebut.
"Saya juga sempat cek ke Pasar Argosari Wonosari, cabai rawit harganya sekitar Rp 120 ribu per kilogram," katanya melalui pesan singkat pada Senin (01/03/2021).
Baca juga: Gugus Tugas Bantul Lakukan Swab Massal Pegawai BPKAD, 17 Orang Dinyatakan Positif COVID-19
Yuni pun memberikan data pantauan rata-rata harga bahan pokok sepekan terakhir.
Menurut data tersebut, harga berbagai varian cabai cenderung fluktuatif namun menunjukkan peningkatan.
Khususnya pada cabai rawit merah, di mana harga rata-ratanya menyentuh kisaran Rp 100 ribu di 23 Februari lalu. Adapun harga terendah tercatat di kisaran Rp 78 ribu.
"Saat akhir Februari, harga rata-rata cabai rawit merah di Gunungkidul kisarannya Rp 89 ribu," ungkap Yuni.
Ia juga mengungkapkan stok cabai di sejumlah pasar mengalami kekosongan. Banyak para pedagang yang hanya menyetok persediaan lebih sedikit dari biasanya.
Menurut Yuni, dibutuhkan modal yang besar jika membeli persediaan banyak.
Sedangkan harga saat ini tengah tinggi, ditambah daya beli masyarakat sedang turun karena pandemi COVID-19.
Baca juga: Artidjo Alkostar dalam Kenangan Pendiri Social Movement Indonesia (SMI): Beliau Menginspirasi
"Meski begitu tetap ada yang mencari (cabai), terutama di Gunungkidul," tuturnya.
Pilihan mengurangi stok juga dilakukan oleh Deni (48), pedagang sayur di Pasar Argosari Wonosari. Adapun ia biasanya mengambil persediaan cabai dari Prambanan, Sleman.
Ia biasanya menyetok cabai hingga 5 kilogram dan bisa habis dalam sehari. Namun karena pembelian sedang turun, persediaan pun ia kurangi saat ini.
"Sejak pandemi, saya stok 5 kilo sehari tidak bisa habis terjual," tutur Deni. (alx)