Internasional
Mulai Melunak, Amerika Serikat Siap Bertemu Iran Bahas Soal Perpanjian Nuklir 2015
Tarik ulur soal perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan Amerika Serikat mulai menunjukan tanda-tanda positif.
TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON DC - Tarik ulur soal perjanjian nuklir 2015 antara Iran dan Amerika Serikat mulai menunjukan tanda-tanda positif.
Amerika Serikat menyatakan siap untuk bertemu dengan Iran guna membahas permasalahan tersebut.
Hal itu disampaikan oleh AS pada Kamis (18/2/2021) kemarin.
Beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri Antony Blinken berbicara dengan rekan-rekannya di Eropa, AS menyambut baik proposal pembicaraan dengan semua negara dalam kesepakatan nuklir Iran 2015.
Direktur politik Uni Eropa, Enrique Mora, di Twitter lalu mengusulkan adanya pertemuan informal untuk semua peserta.
Ia mengatakan, perjanjian nuklir sedang dalam tahap kritis jelang tenggat waktu akhir pekan bagi Iran yang program nuklirnya akan diperiksa PBB.
"Amerika Serikat akan memenuhi undangan dari Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk menghadiri pertemuan P5+1 dan Iran, guna membahas jalan diplomatik ke depan tentang program nuklir Iran," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Ned Price, dikutip dari AFP.
Negara-negara yang termasuk dalam perjanjian nuklir 2015 adalah AS dan Iran, serta Inggris, China, Perancis, Jerman, dan Rusia.
Mantan presiden AS Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir, dan justru menjatuhkan sanksi besar yang melumpuhkan Iran.
Namun, Presiden Joe Biden mendukung kembalinya diplomasi dengan mengatakan, perjanjian 2015 efektif dalam menekan program nuklir Teheran.
Meski begitu masih harus dinanti juga apakah Iran mau duduk bersama dengan AS.
Iran bersikeras AS harus mencabut sanksi dulu sebelum kembali mematuhi perjanjian nuklir 2015.
Dalam satu kesempatan pada Kamis (18/2/2021), kabinet Joe Biden meminta tak ada sanksi baru untuk Iran dari PBB.
Surat dari penjabat duta besar AS untuk PBB, Richard Mills, sanksi yang akan diberlakukan kembali pada Agustus tetap dibatalkan.
Eks Menlu AS Mike Pompeo berargumen, Amerika secara teknis masih menjadi peserta dalam perjanjian 2015.
Baca juga: Soal Kesepakatan Nuklir, Iran Tolak Syarat Amerika Serikat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilmuan-nuklir-mohsen-fakhrizadeh-tewas-diserang-di-dalam-mobil-iran-tuding-israel-dalangnya.jpg)