Dirut RSUP dr Sardjito Yogyakarta : Upaya Penambahan Tempat Tidur Bukanlah Perkara Mudah
Selain membutuhkan tempat, ada banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Khususnya kebutuhan akan sumber daya manusia.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X,menginstruksikan agar rumah sakit (RS) pemerintah meningkatkan kapasitas ruang isolasi hingga 60 persen, dari total ketersediaan tempat tidur (TT) yang dimiliki untuk merawat pasien COVID-19.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama RSUP dr Sardjito Yogyakarta, Rukmono Siswishanto, menjelaskan upaya penambahan TT bukanlah perkara mudah.
Selain membutuhkan tempat, ada banyak kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Khususnya kebutuhan akan sumber daya manusia.
"Jadi tidak semata-mata hanya kamar ditambah. Juga diperlukan tambahan tenaga, obat-obatan, peralatan, dan yang paling berat itu SDM. Kalau obat kan bisa dibeli. Kalau SDM tidak kan," jelasnya saat ditemui di Gedhong Pracimasono, Kompleks Kepatihan pada Senin (18/1/2021).
Baca juga: Sri Sultan HB X Minta RS Pemerintah Tambah Kapasitas Ruangan untuk Pasien Covid-19 Hingga 60 Persen
Baca juga: Sri Sultan HB X Tak Akan Terapkan Sanksi Bagi Penolak Vaksin Covid-19 di DIY, Ini Alasannya
Kendati demikian, pihaknya akan terus mengupayakan peningkatan kapasitas ruang isolasi secara bertahap.
Saat ini kapasitas TT COVID-19 di RSUP dr Sardjito berkisar antara 80 hingga 90 TT.
Jumlah itu kemungkinan bisa ditingkatka,n mengingat jumlah pasien di RSUP dr Sardjito secara keseluruhan mengalami penurunan.
"Kalau dulu 80 persen saat ini hanya 52-55 persen. Artinya banyak bed kosong. Kita konversi dengan menambah ruang-ruang peralihan. Itu perlu waktu supaya bisa dipakai untuk melayani COVID-19," ungkapnya.
Namun, Rukmono belum bisa memberi kepastian terkait jumlah TT yang akan ditambahkan.
Sebab, hal itu juga dipengaruhi dengan ketersediaan SDM serta jumlah pasien secara keseluruhan.
Sebab, penambahan kapasitas ruang isolasi COVID-19 tak boleh mengganggu pelayanan umum di RS.
"Yang penting bukan angkanya, tapi kita punya kapasitas berapa sekarang terpakai berapa. Kita bersyukur karena masih rendah kita bisa memobilisir yang kosong," tandasnya.
Rukomono mengatakan, walaupun ruang isolasi untuk tergolong penuh, pihaknya memastikan bahwa pelayanan darurat untuk pasien COVID-19 terus berjalan.
"Misalnya ada yang melahirkan tapi kebetulan kena COVID-19 itu harus dilayani. Kalau dari RS lain bisa dirujuk ke Sardjito. Biar masyarakat tenang. Kita tetap akan mengupayakan mereka terlayani tidak akan menelantarkan," paparnya.
Baca juga: Gubernur DIY: Vaksinasi Covid-19 Dibagi Empat Tahap
Baca juga: Ini Instruksi Gubernur DIY Kepada Bupati dan Wali Kota untuk Hadapi Lonjakan Kasus Covid-19
Rukmono pun mengimbau kepada masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Terutama bagi masyarakat kelompok usia muda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rukmono-siswishanto-dan-pembajun-setyaningastutie.jpg)