Breaking News:

Jawa

Hampir Seratus Ternak Babi di Klaten Mati Diserang Virus ASF pada November 2020

Kemunculan virus demam babi Afrika itu berawal dari adanya sejumlah peternak babi di Klaten yang membeli hewan ternak di daerah wabah.

TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan
Kepala DPKPP Kabupaten Klaten, Widiyanti 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - African Swine Fever (ASF) atau yang biasa dikenal Virus babi Afrika dilaporkan menyerang hampir seratus hewan ternak babi di Klaten pada November 2020 lalu.

Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Klaten mengatakan jika virus ASF itu baru pertama kali muncul dan menyerang hewan ternak babi di Klaten.

"Virus ASF ini baru yang pertama kali ditemukan pada November dan menyerang peternak babi di Klaten," ujar Kepala DPKPP Kabupaten Klaten, Widiyanti saat ditemui di pendapa Pemkab Klaten, Senin (4/1/2021).

Ia mengatakan, pada November 2020 itu, hampir seratus hewan ternak babi yang berada di Kabupaten Klaten mati akibat terjangkit virus demam babi Afrika itu.

Baca juga: DPKPP Klaten Ungkap Temuan Virus ASF pada Hewan Ternak Babi di Wilayah Jogonalan November 2020

"Kalau jumlahnya berapa angka persisnya saya tidak ingat tapi mendekati seratus," imbuhnya.

Ia mengatakan kemunculan virus demam babi Afrika itu berawal dari adanya sejumlah peternak babi di Klaten yang membeli hewan ternak di daerah wabah.

"Setelah kita telusuri munculnya virus itu ternyata adanya peternak yang beli bibit di daerah wabah, sehingga menular ke hewan ternak mereka yang lain," paparnya.

Widiyanti melanjutkan, pada November semua babi yang mati terserang virus ASF dikubur dan tidak dibuang ke sungai.

Untuk mengantisipasi terjadinya serangan virus itu, pihaknya memberikan penyuluhan kepada peternak babi agar tidak membeli babi di daerah wabah.

Baca juga: Polres Klaten Telusuri Pelaku Pembuangan Bangkai Babi

Selain itu juga mengatakan jika virus tersebut, belum ada obatnya sehingga pihaknya hanya bisa melakukan biosecurity terhadap temuan virus itu.

"Yang bisa dilakukan adalah dengan biosecurity yang ketat dengan desinfektasi, keluar masuk orang di kandang harus ketat dan tidak membeli ternak babi dari daerah wabah," tegasnya.

Kemudian, Widiyanti mengatakan untuk antisipasi merebaknya virus ASF di kalangan peternak babi, pihaknya melakukan komunikasi, informasi dan edukasi atau KIE kepada peternak.

"Untuk antipasi perkembangan ASF dilakukan KIE atau komunikasi, informasi dan edukasi pada peternak yang sejak Bulan November sudah dilakukan," urainya. ( Tribunjogja.com )

Penulis: Almurfi Syofyan
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved