Breaking News:

Jawa

Antisipasi Virus ASF Serang Ternak Babi di Klaten, DPKPP Lakukan Hal Ini

Virus ASF itu baru pertama kali muncul dan menyerang hewan ternak babi di Klaten.

TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan
Kepala DPKPP Kabupaten Klaten, Widiyanti 

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Virus demam babi Afrika atau dikenal dengan nama African Swine Fever (ASF) dilaporkan sempat menyerang hewan ternak babi di Klaten pada November 2020 lalu.

Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Klaten sudah menyiapkan antisipasi agar virus ASF itu tidak lagi menyerang ternak babi di Klaten.

"Antisipasi kami telah mengimbau peternak agar tidak membeli babi ke daerah wabah sehingga virus itu bisa ditekan," ujar Kepala DPKPP Kabupaten Klaten, Widiyanti saat ditemui di pendapa Pemkab Klaten, Senin (4/1/2021).

Ia mengatakan, pihaknya juga menerapkan bio security bagi peternak babi yang ada di Klaten untuk mengantisipasi kejadian tersebut terulang kembali.

Baca juga: Hampir Seratus Ternak Babi di Klaten Mati Diserang Virus ASF pada November 2020

Adapun bio security yang dimaksud, yakni melakukan desinfektasi kandang, keluar masuk orang di kandang harus ketat dan tentunya tidak membeli ternak babi dari daerah wabah.

"Antisipasinya dengan bio security tadi. Hanya itu yang bisa kita lakukan karena obat (virus ASF) itu belum ada," jelasnya.

Disamping itu, Widiyanti mengatakan jika virus ASF itu baru pertama kali muncul dan menyerang hewan ternak babi di Klaten.

"Virus ASF ini baru pertama kali ditemukan di Klaten," ucapnya.

Ia mengatakan, pada November 2020 itu, hampir seratus hewan ternak babi yang berada di Kabupaten Klaten mati akibat terjangkit virus demam babi Afrika itu.

"Kalau ditanya jumlah angka persisnya saya tidak ingat tapi mendekati seratus," imbuhnya.

Ia mengatakan kemunculan virus demam babi Afrika itu berawal dari adanya sejumlah peternak Babi di Klaten yang membeli hewan ternak di daerah wabah.

Baca juga: DPKPP Klaten Ungkap Temuan Virus ASF pada Hewan Ternak Babi di Wilayah Jogonalan November 2020

"Setelah kita telusuri munculnya virus itu ternyata adanya peternak yang beli bibit di daerah wabah, sehingga menular ke hewan ternak mereka yang lain," paparnya.

Widiyanti melanjutkan, pada November semua babi yang mati terserang virus ASF dikubur dan tidak dibuang ke sungai.

Kemudian, Widiyanti mengatakan untuk antisipasi merebaknya virus ASF di kalangan peternak babi, pihaknya melakukan komunikasi, informasi dan edukasi atau KIE kepada peternak.

"Untuk antipasi perkembangan ASF dilakukan KIE atau komunikasi, informasi dan edukasi pada peternak yang sejak bulan November sudah dilakukan," urainya. ( Tribunjogja.com )

Penulis: Almurfi Syofyan
Editor: Gaya Lufityanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved