Penddikan
Resmi Dapatkan Izin Edar Kemenkes, GeNose C19 Buatan UGM Siap Lepas Landas
GeNose merupakan inovasi pertama di Indonesia yang digunakan untuk pendeteksian COVID-19 melalui embusan napas.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Alat pendeteksi COVID-19 melalui embusan napas buatan tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diberi nama GeNose C19 akhirnya resmi mendapatkan izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Kamis (24/12/2020).
Dengan demikian, GeNose C19 mulai dapat diterjunkan untuk membantu penanganan COVID-19 melalui upaya percepatan tracing dan tracking dengan kemampuan sensitivitas 90 persen.
Hal itu disampaikan oleh dr Dian Kesumapramudya Nurputra, salah seorang anggota tim pembuat GeNose C19.
“Alhamdulillah berkat doa dan dukungan luar biasa dari berbagai pihak, tepat hari ini 24 Desember 2020, pukul 15.00, pada hari ke-290, GeNose C19 secara resmi mendapatkan izin edar untuk mulai dapat diterjunkan membantu penanganan COVID-19 dengan upaya mempercepat tracing dan tracking sesuai kemampuannya dengan sensitifitas 90%, spesifisitas 96, akurasi 93% dengan PPV 88% dan NPV 95%. Bukan main-main sidang izin edar yang dilalui,” tulis Dian dalam laman Facebook-nya dan telah dikonfirmasi Tribunjogja.com, Jumat (25/12/2020).
Baca juga: Mengenal GeNose, Alat Deteksi Cepat COVID 19 dengan Teknologi AI
Dian mengungkapkan, pihaknya memberi apresiasi kepada tim review uji klinis Kemenkes yang terdiri atas 8 profesor dari UI, UNAIR, Profesi Patologi Klinik, UNHAS, ITB, dan Kemenkes.
“Tim review dengan detil, rigid, namun compassionate mengawal, mengkritisi, dan memberikan masukan, walaupun di-setting serba cepat,” imbuhnya.
Ia menambahkan, dengan keluarnya izin edar GeNose C19 ini, tim akhirnya dapat fokus menyelesaikan manuskrip publikasi.
Ditargetkan, akhir Bulan Desember tim peneliti dapat mengajukan naskah publikasi, sehingga secara akademik keandalan GeNose C19 dapat dipertanggungjawabkan.
Meski sudah siap lepas landas, Dian menuturkan, produksi alat GeNose C19 sementara masih terbatas karena terbatasnya modal awal penyertaan produksi di tahap pertama.
Saat ini baru tersedia 100 unit alat dan akan dilanjutkan produksi 100 unit berikutnya.
Menurut Dian, penempatan alat GeNose C19 harus strategis agar impak manfaatnya langsung berdampak secara luas, disertai dengan protokol quality control yang ketat terutama kendali produksi, SOP pemeriksaan, dan kendali lingkungan di mana GeNose C19 akan ditempatkan.
“Mohon doa agar kami segera mendapat bantuan modal penyertaan awal, sehingga bisa diproduksi 1000-2000 unit di batch berikut sehingga GeNose C19 bisa didistribusikan lebih luas lagi,” paparnya.
Di samping itu, tantangan lainnya adalah memasukkan GeNose C19 ke dalam ekosistem pemeriksaan COVID-19 di Indonesia.
Baca juga: GeNose Masuk Tahap Uji Diagnostik pada Pasien di 9 Rumah Sakit
Di sini dibutuhkan bantuan kebijaksanaan organisasi profesi dan pemerintah dengan basis bukti hasil uji diagnostik yang telah dilakukan.
Saat ini, ungkap Dian, terdapat 7.000-an kasus positif covid-19 yang ditemukan setiap hari di Indonesia dengan tingkat pemeriksaan mencapai 34.000 sehari.
Dengan GeNose, lanjutnya, kemungkinan pemeriksaan bisa ditingkatkan menjadi 250.000-300.000 sehari.
“Jangan kaget apabila akan muncul ledakan jumlah kasus positif,” ucapnya.
Dian pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama proses trial GeNose C19.
Terutama kepada para relawan, partisipan, site coordinator di setiap rumah sakit (RS), enumerator, asisten, DPJP, dokter ekspert SpPD, SpP, SpPK, SpTHT, SpAn, SpA, dokter umum, perawat, laboran yang terlibat di semua RS site mulai dari RS Bhayangkara R Said Soekanto, RS Kramat Djati, RSUP Dr Sardjito, RS Bhayangkara POLDA DIY, Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID Bambanglipuro Bantul, RS DKT dr Soetarto, RSPAU Hardjolukito, RS Akademik UGM, dan RS Saiful Anwar Malang.
“Selain itu, Prof Panut (Rektor UGM), Prof Paripurna (Warek Kerja sama dan Alumni), Direktorat PUI, Jajaran Dekanat FK-KMK dan FMIPA UGM, serta konsorsium industri (PT HIkari Solusindo Sukses, Nanosense, PT YPTI, PT Stethoq Indonesia dan PT Swayasa Perkasa) dengan jajaran engineer handal mulai fisikawan, ahli nanomaterial, ahli sensor, electrician, AI architect, ahli hukum dan ekonom di belakangnya, serta tak lupa dukungan BIN, Kemristek BRIN-LPDP, Kemdikdikti, Kementrian Kesehatan, POLRI, TNI dan Pertamina. Syukur Alhamdulillah karena tanpa semua pertemuan ini, mungkin project ini akan sulit terealisasi,” beber Dian.
Baca juga: Dies NataIis ke-71, Inventor GeNose Kuwat Triyono Terima Penghargaan Anugerah UGM 2020
Cara kerja GeNose C19
Pada prinsipnya, GeNose C19 mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 di orofaring atau tenggorakan melalui hasil metabolisme volatile organic compound (VOC) atau semacam senyawa hidrokarbon kompleks yang diproduksi dari hasil metabolisme virus.
Dian menuturkan, virus SARS-CoV-2 memiliki pola berbeda dengan pola virus-virus lainnya sehingga dapat terdeteksi.
Pola ini ditangkap pada saat orang mengembuskan napas oleh 10 sensor yang ada di dalam mesin ini.
Dari hasil pembacaan sensor akan muncul pola-pola gelombang elektrik yang kemudian diterjemahkan oleh lima macam software AI (intelegensi buatan) yang dipergunakan.
Dengan berbagai uji coba yang telah dilakukan, sistem AI pada alat ini semakin lama akan semakin pintar.
Semakin sering GeNose C19 terpapar dengan COVID-19, maka ia akan semakin akurat dan tepat dalam mendiagnosis COVID-19.
Berbeda dengan swab test PCR yang membutuhkan waktu pemeriksaan hingga beberapa hari, GeNose C19 dapat mendeteksi Covid-19 hanya dalam hitungan beberapa puluh detik dan tanpa menimbulkan rasa sakit.
Orang yang akan diperiksa menggunakan GeNose C19 cukup meniup sebuah kantung berwarna putih.
Kantung berisi napas yang menyerupai balon tersebut kemudian ditancapkan ke saluran mesin GeNose C19.
Mesin GeNose C19 yang telah terhubung ke sebuah laptop, memiliki sensor dengan kemampuan membaca pola senyawa dalam napas manusia.
Baca juga: GeNose UGM Bersaing dengan Produk Luar Negeri, Warek UGM: Butuh Nasionalisme yang Kuat
Hanya sekitar satu menit kemudian, layar laptop telah menunjukkan hasil pembacaan mesin GeNose C19 berupa kode yang mengindikasikan positif atau negatif COVID-19.
Nama GeNose diambil dari singkatan ‘G’ artinya Gadjah Mada, ‘e’ dari electronic, ‘nose’ dari hidung, dan ‘C19’ dari COVID-19.
Alat ini sekaligus merupakan inovasi pertama di Indonesia yang digunakan untuk pendeteksian COVID-19 melalui embusan napas.
Aplikasinya terhubung langsung dengan sistem terkomputerisasi untuk mendapatkan hasil diagnosis secara realtime.
Adapun tim penemu GeNose berasal dari peneliti lintas bidang di UGM, yakni Dr Eng Kuwat Triyana, MSi (FMIPA), dr Dian Kesumapramudya Nurputra, SpA, MSc, PhD (FKKMK), Dr Ahmad Kusumaatmaja (FMIPA), dan dr Mohamad Saifudin Hakim, MSc, PhD (FKKMK).
Dian mengungkapkan, dengan GeNose keputusan yang cepat dan kemampuan mengisolasi pasien positif covid-19 dalam waktu cepat bisa dilakukan.
“Sehingga kita bisa memisahkan orang sakit dan orang sehat, sementara orang sehat bisa bergerak ke luar untuk menggerakkan proses ekonomi,” ungkapnya. ( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/genose-alat-deteksi-covid-19-melalui-embusan-nafas-milik-tim-ahli-ugm.jpg)