Mengenal GeNose, Alat Deteksi Cepat COVID 19 dengan Teknologi AI

GeNose memiliki keunggulan waktu deteksi covid 19 yang jauh lebih cepat dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah.

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Tim ahli menunjukan GeNose 

TRIBUNJOGJA.COM - Inventor alat deteksi cepat COVID 19 (GeNose), Prof Drs Kuwat Triyana memperoleh penghargaan Anugerah UGM 2020 pada puncak peringatan Dies Natalis ke - 71, Universitas Gadjah Mada pada Sabtu (19/12/2020).

Bersama Kepala BMKG Prof Ir Dwikorita Karnawati, keduanya dinilai telah berjasa besar dalam menjalankan tugas pengabdiannya sehingga layak mendapatkan penghargaan dari UGM.

Sebagaimana press release yang dikeluarkan UGM, Kuwat Triyana adalah penemu alat deteksi cepat COVID 19 yang disebut GeNose.

Ia merupakan dosen pada Departemen Fisika FMIPA UGM sekaligus peneliti di Institute of Halal Industry and System (IHIS) UGM.

Ia menekuni kajian fisika material dan instrumentasi sejak 2008 dan telah menghasilkan berbagai produk inovasi semisal masker anti polusi asap dan bakteri berbahan nanofiber. Ia juga menciptakan hidung elektronik untuk deteksi cepat kontaminasi zat berbahaya dalam makanan, kadaluwarsa produk makanan, serta kehalalan produk. Serta ada pula lidah elektronik untuk otentikasi halal, deteksi keaslian dan kualitas produk secara cepat, akurat, dan portabel.

Terbaru, ia mengembangkan GeNose alat deteksi Covid-19 lewat embusan napas dengan kemampuan mendeteksi Covid-19 dalam tubuh manusia dalam waktu cepat kurang dari dua menit.

Keunggulan GeNose

GeNose memiliki keunggulan waktu deteksi yang jauh lebih cepat dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah.

Satu unit GeNose yang diperkirakan seharga Rp 40 juta dapat digunakan untuk 100 ribu pemeriksaan.

“Biaya yang dikeluarkan per pasien jauh lebih murah daripada rapid test,” kata Kuwat saat dihubungi Tribunjogja.com, Jumat (25/9/2020).

Sementara, dalam hal kemampuan mendeteksi virus corona baru dalam tubuh manusia, GeNose mampu mengeluarkan hasil tes tidak lebih dari 2 menit berupa positif atau negatif Covid-19.

“Kalau sebelumnya butuh waktu sekitar 3 menit, kemarin saat uji di BIN sudah bisa turun menjadi 80 detik sehingga lebih cepat lagi,” kata Kuwat.

Cara Kerja GeNose

Menurut Kuwat, cara kerja GeNose sangat berbeda dengan tes PCR yang melakukan identifikasi dari jenis virus melalui RNA kemudian di-reverse menjadi DNA.

“Ide awal alat ini, nafas bisa memberi gambaran indikasi banyak penyakit. Gangguan ginjal, kanker, paru bisa dianalisis dari embusan nafas dan sudah banyak yang melakukan,” ungkapnya seperti disampaikan dalam Webinar Sonjo Jogja, belum lama ini.

Keuntungan GeNose lainnya, lanjut dia, dalam proses pendeteksian tidak diperlukan tenaga kesehatan maupun alat pelindung diri (APD). Sebab, pasien hanya tinggal mengembuskan nafas dalam sebuah kantong seperti balon dan tidak perlu kontak dengan alat GeNose itu sendiri.

Pada Mei hingga Agustus 2020 alat ini telah menyelesaikan uji profiling atau kalibrasi dengan melibatkan 615 profile.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved