Breaking News:

PKL Melarang Massa Gelar Demonstrasi di Kawasan Malioboro

Komunitas Malioboro yang berisi sebagian besar pedagang kaki lima (PKL) di kawasan itu menyatakan bakal melarang aksi demonstrasi

Penulis: Yosef Leon Pinsker
Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Hanif Suryo
Situasi kawasan Malioboro tampak lengang pada libur nasional bertepatan dengan pelaksanaan Pilkada serentak, Rabu (9/12/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komunitas Malioboro yang berisi sebagian besar pedagang kaki lima (PKL) di kawasan itu menyatakan bakal melarang aksi demonstrasi yang digelar di kawasan tersebut.

Hal ini merespons aksi demonstrasi yang akan digelar di kawasan itu pada besok oleh Aliansi Rakyat Bergerak (ARB). 

Dalam pamflet yang tersebar di sosial media, ARB menyatakan bakal menggelar aksi unjuk rasa dalam memperingati Hari HAM Internasional pada 10 Desember 2020.

Baca juga: Petugas KPPS di Mlati Sleman Datangi Rumah Warga yang Sakit dengen APD Lengkap

Baca juga: Pendukung Siap Gundul dan Jalan Kaki Bila Pasangan Abdul Halim Muslih - Joko Purnomo Menang

Aksi akan dilakukan secara long march dari kawasan Abu Bakar Ali hingga ke Titik Nol Kilometer Yogyakarta. 

"Kami akan ajak dialog dan bilang kepada mereka agar unjuk rasa tidak dilakukan di Malioboro. Kami suruh pindah ke tempat lain asal jangan di Malioboro. Kami masih trauma dengan kejadian 8 Oktober lalu," kata Ketua Komunitas Malioboro, Slamet Santoso dihubungi Rabu (9/12/2020). 

Slamet menyatakan, larangan unjuk rasa di Malioboro berlaku kepada semua pihak.

Para PKL di kawasan itu sudah sepakat bahwa Malioboro sebagai ikon kota Yogya harus dijaga dan dirawat serta dihindari dari aksi-aksi anarkis. 

"Ini kan mau menyambut long weekend juga. Jadi PKL sudah bersiap, kalau ada aksi demo dan berakhir ricuh siapa yang mau tanggung jawab, kan pedagang juga yang kena imbasnya," ujar Slamet. 

Baca juga: Quick Count Pilkada Kota Magelang, Muchamad Nur Aziz - M Mansyur Lakukan Sujud Syukur

Baca juga: Sri Muslimatun Unggul di TPS Tempat Ia Mencoblos

Dia menuturkan, pandemi Covid-19 cukup telak memukul pendapatan para PKL.

Berkaca pada kejadian 8 Oktober lalu, dia menyebut cukup banyak wisatawan yang enggan berkunjung akibat aksi berujung anarkis tersebut. 

"Jadi mari sama-sama kita jaga, agar Malioboro sebagai ikon pariwisata ini bisa ramai dikunjungi dan tidak rusak akibat tindakan-tindakan rusuh," imbuhnya. 

Dia juga memastikan bahwa pihaknya akan menunggu sebelum aksi ARB besok dimulai. Pihaknya akan mengajak dialog kepada peserta aksi agar lokasi unjuk rasa dipindahkan. "Kan masih banyak tempat yang lain, asal jangan di Malioboro," pungkasnya. (jsf)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved