Berita Kesehatan

Manfaat Shirataki Untuk Kesehatan, Salah Satunya Dapat Menurunkan Kadar Gula Darah

Mi shirataki yakni mi yang terbuat dari glucomannan, sejenis serat yang berasal dari akar tanaman konjac (konnyaku).

Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Mona Kriesdinar
Dok. Pixabay/Sarah4385 via Kompas.com
Ilustrasi shirataki 

TRIBUNJOGJA.COM - Mi shirataki yakni mi yang terbuat dari glucomannan, sejenis serat yang berasal dari akar tanaman konjac (konnyaku).

Mi shirataki berwarna putih cenderung bening, dan sering juga disebut mi konjak.

Tanaman konjak tumbuh di Jepang, Tiongkok, dan beberapa wilayah Asia Tenggara.

Berbeda dari mi biasanya yang mengandung banyak karbohidrat, mi shirataki mengandung karbohidrat yang lebih sedikit.

Karbohidrat yang ada dalam mi shirataki didominasi oleh serat, bukan hanya pati atau zat tepung.

Oleh karena itu, mi shirataki sangat rendah kalori.

Berikut beberapa manfaat mi shirataki:

1. Menurunkan kadar gula darah

Glukomaman terbukti membantu menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes dan resistensi insulin.

Karena serat kental menunda pengosongan makanan di perut, kadar gula darah dan insulin naik secara bertahap, seiring penyerapan nutrisi di dalam darah.

Sebuah penelitian membuktikan, penderita diabetes tipe 2 yang makan glukomanan mengalami penurunan penanda gula darah fruktosamin yang signifikan.

Penderita diabetes perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum makan mi atau nasi shirataki.

Pasalnya, mengonsumsi bahan alami ini bisa memengaruhi pengobatan diabetes.

Baca juga: Mengenal Fenomena Fajar dan Efek Somogyi, Saat Gula Darah Naik di Pagi Hari

2. Menurunkan kolesterol

Penelitian lain menunjukkan, glukomanan dalam shirataki dapat membantu menurunkan kadar kolesterol.

Para peneliti mencatat, glukomanan dapat meningkatkan pengeluaran kolesterol lewat kotoran buang air besar.

Dengan begitu, kolesterol yang terserap ke aliran darah lebih sedikit dan kadar kolesterol bisa lebih rendah.

Baca juga: Ciri-ciri Gula Darah Rendah yang Juga Sangat Membahayakan Penderita Diabetes

3. Menurunkan berat badan

Manfaat shirataki lainnya yakni membantu menurunkan berat badan.

Serat kental dalam mi atau nasi shirataki dapat menunda pengosongan makanan di perut.

Dampaknya, perut jadi kenyang lebih lama dan nafsu makan jadi tidak berlebihan.

Selain itu, serat dalam shirataki dapat memfermentasi serat menjadi asam lemak rantai pendek.

Proses ini merangsang pelepasan hormon usus yang memberikan kode ke tubuh untuk merasa kenyang.

Terlebih, makan glukomanan yang terkandung dalam shirataki juga bisa mengurangi hormon pengontrol rasa lapar ghrelin.

Baca juga: Cara Mengenali Gejala Rendah Gula Darah, Tak Kalah Membahayakan dengan Gula Darah Tinggi

4. Menambah asupan serat

Dilansir dari Healthline, salah satu keistimewaan shirataki adalah kandungan serat glukomanan.

Serat ini termasuk jenis serat larut yang sangat kental dan bisa menyerap air serta diubah menjadi gel.

Glukomanan seperti busa ajaib, yang dapat menyerap air sampai 50 kali bobot asalnya.

Serat kental glukomanan bisa bertindak sebagai prebiotik.

Zat ini bisa memberi makan bakteri baik di usus besar.

Di usus besar tersebut, bakteri melakukan fermentasi serat menjadi asam lemak rantai pendek.

Setelah difermentasi, zat ini bisa membantu melawan peradangan, meningkatkan sistem daya tahan tubuh, dan memberikan manfaat kesehatan lainnya.

5. Bisa mengatasi sembelit

Kandungan serat glukomanan dalam shirataki bisa mengatasi gangguan pencernaan seperti sembelit.

Penelitian menunjukkan, serat ini ampuh mengatasi sembelit parah pada anak-anak yang diberi glukomanan.

Bagi orang dewasa, glukomanan bisa meningkatkan frekuensi buang air besar sampai menambah jumlah bakteri baik di usus.

Untuk mendapatkan manfaat shirataki untuk kesehatan yang optimal, ahli menyarankan untuk mengonsumsi shirataki alami seperti mi dan nasi, bukan dalam bentuk suplemen.

Konsumsi shirataki umumnya aman. Namun, bagi orang yang tidak terbiasa makan serat, dampaknya perut bisa kembung atau memicu buang air besar.

Namun, kondisi tersebut bersifat sementara dan bisa hilang dengan sendirinya setelah perut terbiasa.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved