Update Corona di DI Yogyakarta

KRONOLOGI 40 Karyawan Perusahaan Telemarketing di Sleman Positif COVID-19

Penularan diawali dengan seorang karyawan perusahaan telemarketing yang izin tidak masuk kerja.

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
dok.istimewa
Ilustrasi Covid-19 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Perkembangan kasus COVID-19 di Sleman terpantau meningkat signifikan.

Terlebih dengan adanya penambahan klaster baru di Kabupaten Sleman, yaitu klaster telemarketing.

Kasus positif COVID-19 pertama ditemukan pada 28 Oktober 2020. 

Penularan diawali dengan seorang karyawan perusahaan telemarketing yang izin tidak masuk kerja.

Karyawan asal Magelang tersebut memeriksakan diri ke dokter dan diduga tifus, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ternyata positif COVID-19.

Baca juga: UPDATE Covid-19 Hari Ini, Tambahan Kasus Positif dari Hasil Tracing Pegawai Disdukcapil Kulon Progo

Setelah penemuan kasus tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman langsung bergerak dengan melakukan tracing pada rekan kerja pasien.

Selain melakukan tracing ruang kerja pasien juga langsung ditutup dan dilakukan penyemprotan disinfektan. 

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Joko Hastaryo mengatakan total ada 181 karyawan di perusahaan telemarketing.

Pihaknya telah melakukan tes swab pada 63 karyawan lain.

"Pertama satu orang positif, kemudian setelah dilakukan tracing ada 14 karyawan lain yang positif, dan sekarang total pasien positif (karyawan perusahaan telemarketing) ada 40,"katanya, Selasa (17/11/2020).

Baca juga: Update Covid-19 DI Yogyakarta Hari Ini, Muncul Kasus Perkantoran di Kulon Progo

Hingga saat ini karyawan yang positif COVID-19 masih mendapatkan perawatan, beberapa karyawan mendapat perawatan di Asrama Haji. 

"Yang sudah selesai isolasi 14 hari ada 9 orang,"lanjutnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Penanganan COVID-19 Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi menambahkan munculnya klaster tersebut kemungkinan karena protokol kesehatan kurang dipatuhi.

"Mungkin karena bekerja secara daring, tidak bertemu banyak orang, jadi merasa aman. Tidak melakukan jaga jarak, padahal kegiatan daring juga bisa berpotensi terjadi penularan,"tambahnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved