Kisah Warga di Perbatasan yang Terdampak Lockdown di Malaysia, Beli Elpiji 14 KG Seharga Rp1,5 Juta
Kisah Warga di Perbatasan yang Terdampak Lockdown di Malaysia, Beli Elpiji 14 KG Seharga Rp1,5 Juta
Mereka akan menunggu kapal kecil di pinggir sungai dengan luas sekitar 30 meter yang merupakan wilayah Malaysia.
Kapal jenis ketinting tersebut datang dengan LPG siap pakai, lalu menukar tabung LPG kosong yang dibawa buruh gendong.
"Dari pinggir sungai di Long Mekang yang masih wilayah Malaysia, buruh gendong yang semuanya pemuda dan kuat itu akan menggendong LPG dengan Bekang (sejenis alat gendong suku dayak Lundayeh), diikatkan di punggung dan mendaki gunung tinggi sekitar dua jam," tutur Dawat.
Baca juga: Cerita Warga Dataran Tinggi Krayan di Perbatasan Malaysia, Harga Semen jadi Rp1,5 Juta Saat Pandemi
Sesampai di puncak, mereka masih harus menggendongnya menuju jalan tani untuk sampai di jalan utama perbatasan.
Jarak Desa Lembudud dari perbatasan sekitar 6 km.
Dawat mengatakan, kelangkaan LPG di Krayan sudah terjadi sejak April 2020 atau sejak Malaysia menerapkan kebijakan lockdown.
Sulit mendapatkan kayu api kering untuk memasak karena cuaca yang tidak menentu membuat warga memilih membeli gas LPG meski harganya jauh dari harga normal.
"Jalur yang dipakai sekarang sebenarnya jalur orang orangtua kami untuk bekerja di Malaysia, Biasa kalau musim panen padi, mereka masuk bekerja di Malaysia. Sudah terjadi lama sekali begitu, sudah dari dulu. Hanya saja kalau kondisi normal, tidak susah mendapat tong gas," kata Dawat.
Kebutuhan pokok di Krayan melonjak Anggota DPRD Nunukan Daerah Pemilihan (Dapil) Krayan Welson menuturkan, harga kebutuhan pokok yang mayoritas dari Malaysia melonjak sejak April 2020.
Gula pasir saat ini dibanderol Rp 40.000 per kg, tepung terigu Rp 35.000.
Padahal saat normal, gula maupun terigu tidak lebih dari Rp 15.000 per kg.
Tak terkecuali harga material bangunan. Satu sak semen di Krayan saat normal berkisar Rp 300.000 per sak, sekarang dihargai Rp 1,8 juta.
"Kan langka semua sejak Malaysia lockdown, begitulah kondisinya. Hanya BBM yang agak mendingan karena ada pesawat Pertamina yang beri subsidi dan harganya sama dengan Nunukan Kota," kata dia.
Kondisi demikian membuat Welson berharap Pemerintah Malaysia segera memberi kelonggaran pasokan bahan pokok untuk sekedar memenuhi kebutuhan warga Krayan.
"Sudah ada wacana pembukaan perdagangan tradisional, edarannya sudah kami terima dari Malaysia, semoga segera dibuka," harapnya.