UPDATE Terkini Gunung Merapi : Terdengar 6 Kali Suara Guguran di Puncak Merapi Hingga Petang Ini

BPPTKG Yogyakarta melaporkan adanya suara guguran Gunung Merapi sebanyak 6 kali, pada Rabu (11/11/2020)

Tayang:
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM / Almurfi Syofyan
Visual Gunung Merapi saat dilihat dari Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Minggu (8/11/2020). 

Hanik menyebutkan, ancaman bahaya maksimal yang dapat terjadi ialah ketika laju ekstrusi meningkat mencapai 100.000 m3/hari dan kubah lava memenuhi kawah mencapai volume 10 juta m3.

Ia melanjutkan, jika 50 persen dari kubah lava tersebut runtuh, maka akan menghasilkan awan panas ke Kali Gendol sejauh 9 km, Kali Opak 6 km, dan Kali Woro 6 km.

“Saat ini arah guguran lava dominan ke arah Kali Senowo, Kali Lamat, dan Kali Gendol dengan jarak maksimal 3 km di Kali Lamat,” ungkap Hanik.

Hanik menerangkan lava adalah magma yang berada di permukaan.

Adapun guguran lava yang semakin sering terjadi beberapa hari terakhir merupakan guguran dari sisa-sisa lava atau material lama, semisal hasil erupsi 1948 dan 1988.

Kubah lava Gunung Merapi
Kubah lava Gunung Merapi (Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Menurut Hanik, indikator data pemantauan Gunung Merapi telah melampaui kondisi siaga 2006, sehingga BPPTKG memiliki kemungkinan dua skenario, yaitu skenario ekstrusi magma dengan cepat dan skenario erupsi eksplosif.

“Keduanya berimplikasi estimasi waktu jeda yang pendek sampai dengan kejadian erupsi yang membahayakan penduduk. Saat ini data pemantauan baik seismik maupun deformasi terus meningkat menunjukkan dekatnya waktu erupsi,” ungkapnya.

Kendati demikian, lanjutnya, jika terjadi erupsi eksplosif, kemungkinan tidak sebesar erupsi 2010.

Baca juga: Barak Pengungsi Gunung Merapi di Balerante dan Tegalmulyo Klaten Akan Dipasang Bilik

Baca juga: Sebanyak 2 Ton Beras Disiapkan untuk Kebutuhan Logistik Pengungsi Gunung Merapi di Klaten

Hal ini didasarkan pada tidak terjadinya kegempaan dalam, menunjukkan tidak ada tekanan berlebihan di dapur magma.

Selain itu, migrasi magma berlangsung pelan ditunjukkan dengan seismisitas VTA yang terjadi, jumlah dan pola peningkatan kegempaan dan deformasi EDM mengikuti pola 2006 yang mana bersifat efusif.

Kemudian, banyak terjadi gempa hembusan menandakan lepasnya gas. 

( tribunjogja.com/ maruti a husna )

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved