Sebanyak 130 SMP di Gunungkidul Melakukan Pembelajaran Tatap Muka
Kabid SMP Disdikpora Gunungkidul Kisworo mengungkapkan hingga saat ini sudah ada sekitar 130 SMP yang melakukan aktivitas belajar tatap muka.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul mengizinkan pendidikan jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melakukan aktivitas tatap muka.
Kendati begitu, kegiatan tersebut masih dengan berbagai pembatasan.
Kabid SMP Disdikpora Gunungkidul Kisworo mengungkapkan hingga saat ini sudah ada sekitar 130 SMP yang melakukan aktivitas belajar tatap muka.
"Persentasenya mencapai 80 persen dari total keseluruhan SMP di Gunungkidul," kata Kisworo pada wartawan, Selasa (10/11/2020).
Baca juga: Masih Jauh Dari Perhitungan, Sebanyak 2.750 LPJU di Kulon Progo Terpasang
Baca juga: OJK DI Yogyakarta Capai Berbagai Program dan Kegiatan dalam Bulan Inklusi Keuangan
Ia menjelaskan, tiap minggunya pertemuan hanya digelar satu kali bagi tingkat kelas 7 dan 8.
Sedangkan untuk kelas 9, pertemuan tatap muka dilakukan 2 kali seminggu sebagai persiapan kelulusan.
Setiap pertemuan pun hanya berlangsung selama 2 jam pelajaran, selebihnya proses belajar-mengajar tetap secara daring.
Kisworo pun sudah meminta pihak sekolah untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.
"Kami juga meminta pihak sekolah berkomunikasi dengan wali murid sebelum menerapkan tatap muka, agar ada persetujuan terlebih dahulu," jelasnya.
Kisworo menyebut mekanisme ini sebagai langkah transisi untuk melaksanakan kegiatan pendidikan secara penuh. Namun belum bisa dipastikan kapan aktivitas pendidikan bisa kembali normal.
Penerapan tatap muka terbatas pun bersifat situasional. Artinya jika ditemukan kasus positif COVID-19 di lingkungan atau sekitar sekolah, maka kegiatan kembali sepenuhnya dilakukan secara daring.
"Bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi yang ada, terutama dari perkembangan kasus COVID-19," kata Kisworo.
Terpisah, Kepala SMP Negeri 1 Tepus Heriyanto mengatakan pihaknya tetap memilih mekanisme pembelajaran secara daring.
Baca juga: Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta Diusulkan Naik Rp 65 ribu
Baca juga: Gunung Merapi Siaga, BPPTKG Beri Penjelasan Terkait Potensi Rawan Bahaya ke Arah Kali Gendol Sleman
Saat ini ada sekitar 380 pelajar sekolah tersebut yang aktif.
Ia menyampaikan hingga saat ini pertemuan tatap muka belum dilakukan meski secara terbatas. Apalagi belum lama ini di Kapanewon Tepus mengalami lonjakan kasus.