Petani Tamantirto Bantul Keluhkan Susahnya Dapat Pupuk Subsidi Kepada Abdul Halim

Sejumlah perwakilan kelompok tani di Desa Tamantirto, Kasihan, Bantul menggelar serasehan bersama Calon Bupati Bantul

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Ahmad Syarifudin
Serasehan perwakilan kelompok tani desa Tamantirto dengan calon Bupati Bantul nomor urut 1, Abdul Halim Muslih di gedung serbaguna Karangjati, Desa setempat, Senin (9/11/2020). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Sejumlah perwakilan kelompok tani di Desa Tamantirto, Kasihan, Bantul menggelar serasehan bersama Calon Bupati Bantul nomor urut 1, Abdul Halim Muslih, di gedung serbaguna padukuhan Karangjati, Desa setempat, Senin (9/11/2020).

Dalam pertemuan tersebut, para petani yang sebagian sudah berusia sepuh, mengeluhkan susahnya memanfaatkan kartu tani agar bisa mendapatkan pupuk bersubsidi. 

Ketua gabungan kelompok tani (Gapoktan) Sedio Rukun Tamantirto, Sarjono mengungkapkan, agar bisa mendapatkan pupuk dengan harga subsidi, petani di Tamantirto selalu mengalami kesulitan.

Pasalnya, penebusan pupuk bersubsidi diatur menggunakan kartu tani yang prosesnya, kata dia, dirasakan cukup sulit.

Sebab hampir mayoritas petani di Tamantirto sudah berusia sepuh. 

"Kami berharap supaya dipermudah, agar petani bisa mendapatkan pupuk bersubsidi," kata dia, Senin (9/11/2020). 

Baca juga: PHRI DI Yogyakarta Meyakini Wisata Sepeda Bisa Jadi Daya Tarik Tersendiri

Baca juga: Suhu Udara Panas di Yogyakarta, BMKG Sebut Suhu Maksimal Bisa Capai 35 Derajat Celcius

Sarjono mengatakan, total lahan pertanian di Desa Tamantirto seluas 158 hektar. Jumlah tersebut, digarap oleh 16 kelompok tani.

Masing-masing kelompok sekitar 20 - 50 petani. Menurut dia, enam puluh persen petani di Tamantirto sudah memegang kartu tani dan hampir mayoritas mengeluhkan penebusan pupuk bersubsidi menggunakan kartu tani. Sebab, prosedurnya cukup sulit. 

Petani, kata dia, sebelum mendapat pupuk, terlebih dahulu harus deposito di Bank.

Padahal jarak tempuh dan antrean di Bank setiap hari cukup panjang.

Setelah dari Bank, Petani datang ke agen penyaluran pupuk dengan membawa kartu tani.

Menurut Sarjono, meskipun telah melakukan deposito di Bank, tetapi tidak semua sistem berjalan lancar.

"Kadang, ada juga yang sudah dari Bank dan akan mengambil pupuk, kartu tani-nya kosong. Karena data di bank ternyata belum diinput," ujar dia. 

Jika terjadi seperti itu, mau tidak mau, petani terpaksa harus kembali lagi ke Bank.

Proses semacam itu, menurut dia, merugikan petani karena membuang waktu terlalu lama.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved