Persiapan Penanganan Bencana, Pemkab Bantul Anggarkan Rp 50 Miliar 

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menyiapkan anggaran sebesar Rp 50 miliar dari pos Belanja Tak Terduga (BTT).

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
Tribunjogja/ Ahmad Syarifudin
Pjs Bupati Bantul, Budi Wibowo, bersama Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto, Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi dan Dandim Bantul Letkol Inf Agus Indra Gunawan, meninjau sarana dan prasarana, saat apel gelar pasukan menghadapi bencana alam di Mapolres Bantul, Senin (9/11/2020) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menyiapkan anggaran sebesar Rp 50 miliar dari pos Belanja Tak Terduga (BTT).

Anggaran tersebut akan diperuntukkan untuk penanggulangan bencana Covid-19 dan ancaman bencana alam yang diprediksi pada akhir tahun ini, sampai awal tahun 2021. 

Pjs Bupati Bantul Budi Wibowo mengatakan, pos anggaran penanggulangan bencana melalui belanja tidak terduga total awalnya ada Rp 129 miliar.

Sebagian dana tersebut, sudah digunakan untuk penanganan Covid-19 Rp 88 miliar sehingga tersisa sekitar Rp 41 miliar.

Belum lama ini Pemkab Bantul mendapat bantuan dana penanganan bencana Rp 9 miliar dari pemerintah pusat. 

"Sehingga sekarang masih ada sekitar Rp 50 miliar. Dana itu, kita antispasi untuk penaggulangan bencana. Apapun yang terjadi terkait bencana, dana akan dikeluarkan dan penyelamatan jiwa manusia itu, yang paling penting," ucap Budi, seusai memimpin Apel Gelar Pasukan Menghadapi Bencana Alam di Halaman Mapolres Bantul, Senin (09/11/2020).

Baca juga: Cuaca di DI Yogyakarta Terasa Panas, Begini Penjelasan BMKG

Baca juga: Ini Kisah Karir Nicholas Saputra, Biografi Singkatnya Ada Di Sini, di Biodata Ada Nama Aslinya

Budi mengatakan, memasuki akhir tahun 2020, Bantul menghadapai resiko tinggi bencana alam.

Apalagi akhir tahun ini ada fenomena alam La Nina di samudra Hindia yang berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berpotensi memicu terjadinya curah hujan 20 - 40 persen lebih tinggi dari normal.

Sehingga Bantul sebagai Kabupaten yang berada di daerah paling hilir perlu waspada.

Sebab, memiliki resiko paling terdampak. 

Belum lagi bencana Covid-19 yang masih berkembang, dan bencana erupsi Merapi yang sangat perlu diwaspadai.

Menurut Budi, pelbagai langkah antisipatif saat ini sudah mulai dilakukan.

Misalnya, sudah berkoordinasi bersama seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan camat untuk memetakan titik rawan bencana di masing-masing wilayah.

Kemudian menjalin sinergitas dan kesiapsiagaan antara Pemerintah Kabupaten, Polres dan Kodim. 

Sinergitas dan kesiapsiagaan, menurut dia, sangat penting untuk menyamakan langkah dalam menghadapi dan menanggulangi bencana.

"Bukan hanya Pemerintah, Polres dan Kodim, masyarakat juga perlu antisipatif. Misalnya dengan membersihkan selokan dari sekarang, mencermati kira-kira cukup tidak untuk menampung luapan air hujan. Saya juga sudah minta Dinas Lingkungan Hidup untuk membersihkan sungai-sungai," ujar dia. 

Baca juga: Aksi Jambret di Klaten Terekam CCTV, Korban adalah Wanita di Depan Kios Sayur

Baca juga: RAMALAN Shio Besok, Selasa 10 November 2020: Shio Naga Lakukan yang Terbaik, Shio Kambing Sibuk

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto mengatakan, curah hujan tinggi akibat fenomena La Nina diprediksi akan mulai terjadi pada November tahun ini sampai Februari, awal tahun 2021 mendatang.

Sebab itu, anggaran belanja tak terduga yang telah disiapkan oleh Pemerintah, apabila tidak habis, maka akan dianggarkan juga untuk tahun depan. 

"Anggaran BTT ini tidak harus habis di tahun ini, sisa anggaran bisa digunakan tahun berikutnya," jelas dia. 

Menurut dia, sejumlah ancaman bencana yang perlu diwaspadai akibat fenomena La Nina, di antaranya, banjir, tanah longsor, angin puting beliung, angin kencang, pohon tumbang dan gelombang tinggi pantai selatan.

Hal ini belum lagi ancaman dari erupsi Gunung Merapi yang sudah dinaikan statusnya dari Waspada ke Siaga.

Meski tidak terdampak langsung, namun menurut dia, kondisi curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan Bantul menjadi muara dari banjir lahar dingin.

"Sama seperti erupsi besar 2010 lalu, kita akan menyiapkan penampungan bagi pengungsi warga Bantul yang terdampak erupsi Merapi. Seperti (misalnya) warga di bantaran sungai," katanya. 

Baca juga: BPO Gelar Tes Pengukuran Atlet PPLP DI Yogyakarta

Baca juga: Bacaan Doa Setelah Sholat Tahajud, Lengkap dengan Artinya

Sementara itu, untuk menanggulangi bencana, Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono mengaku telah menyiapkan 250 personel dari personel Polres dan Polsek jajaran.

Selain itu, sejumlah sarana dan prasarana pendukung juga telah disiapkan. Bahkan, mobil patroli keliling Kepolisian masing-masing telah dibekali dengan senso atau gergaji mesin pemotong pohon.

Hal itu untuk persiapan, manakala sedang berkeliling kemudian ada pohon tumbang. 

"Kita juga memiliki mobil SAR. Kemudian dua perahu karet dan ada jetski. Semuanya siap digunakan," ujar dia. (Rif)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved