Kabupaten Sleman

Masih Banyak Warga Naik ke Kawasan Rawan Bencana di Gunung Merapi, Ini Langkah BPBD Sleman

Masih Banyak Warga Naik ke Kawasan Rawan Bencana di Gunung Merapi, Ini Langkah BPBD Sleman

TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumarga
Mbah Prono menjalani aktivitasnya sehari-hari dengan mencari rumput di lereng merapi 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman akan menggelar sosialisasi mitigasi bencana erupsi kepada warga, terutama para peternak yang selama ini mencari rumput di lereng Gunung Merapi.

Langkah ini perlu dilaksanakan secepatnya karena saat ini masih banyak perumput yang nekat naik di daerah rawan bencana.

Kasi Mitigasi Bencana BPBD Sleman, Joko Lelono mengatakan meski tidak ada permukiman di kawasan rawan bencana (KRB) yang berjarak 3 km dari puncak Gunung Merapi, namun masih banyak warga yang mencari rumput di lereng merapi.

Bahkan jaraknya hingga 2 km dari puncak Merapi.

Menurut koordinasinya dengan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), ada sekitar 300 perumput yang masuk ke wilayah TNGM untuk mencari rumput. Sehingga perlu sosialisasi dan mitigasi yang matang jika terjadi erupsi.

"Kami akan undang BPPTKG, untuk memberikan infromasi data terkini kondisi Merapi. Supaya masyarakat memahami.

Audiensnya perumput dan masyarakat yang biasanya masuk ke wilayah 3 km itu. Perwakilan dari jip juga akan kami undang, supaya bisa membantu kendaraan dalam kondisi darurat,"katanya, Senin (02/11/2020).

Baca juga: BPBD Sleman Buat Mitigasi Bencana Erupsi Merapi Sesuai Prokes, Kapasitas Barak Pengungsian Dibatasi

Baca juga: Kisah Biji Kopi Babadan Lereng Barat Gunung Merapi

Menurut informasi yang diterima dari BPPTKG, ada potensi erupsi Merapi sama seperti erupsi tahun 2006.

Dengan ancaman bahaya hanya sekitar 3 km dari puncak Merapi. Saat permukiman paling dekat dengan puncak adalah 5 km, yaitu daerah Srunen, Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Turgo, dan lain-lain.

"Secara teori kan statusnya naik, Waspada, Siaga, Awas. Tetapi kemarin status Waspada juga terjadi erupsi freatik. Untuk itu masyarakat perlu dipahamkan status Merapi terkini, kewaspadaan masyarakat ditingkatkan, dan nanti masyarakat tahu harus berbuat apa,"sambungnya.

Joko melanjutkan, dalam sosialisasinya, BPBD Sleman juga akan menjelaskan terkait peta jalur rawan dan peta evakuasi. Sehingga perumput dan masyarakat yang beraktivitas kurang dari 3 km bisa melakukan evakuasi.

Untuk itu pula, pihaknya menggandeng pengelola jip wisata. Harapannya pengelola jip dapat membantu masyarakat yang berada dalam kawasan rawan bencana.

"Pokoknya warga atau perumput yang beraktivitas di wilayah 3 km harus keluar dulu. Kami juga akan sampaikan peta jalur rawan. Masyarkat sudah tahu bagaimana mengungsi, jalur evakuasi yang aman seperti apa,"lanjutnya.

Terpisah, Bupati Sleman, Sri Purnomo mengimbau masyarakat khususnya yang berada di lereng Gunung Merapi untuk selalu waspada. Tak hanya itu, warga juga diminta untuk selalu mengikuti perkembangan aktivitas Merapi.

"Masyarakat diimbau untuk memperhatikan dan mengikuti perkembangan aktivitas Merapi. Selalu waspada tetapi tidak perlu panik, Sudah ada protapnya,"katanya. (Tribunjogja/Christi Mahatma Wardhani)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved