Masuk Musim Penghujan, Pemkot Yogya Instruksikan KTB Giatkan Patroli Udara
Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi pun meminta seluruh tim Kampung Tanggap Bencana (KTB) untuk meningkatkan kewaspadaan
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Musim penghujan mulai melanda wilayah Kota Yogyakarta sejak pertengahan bulan ini.
Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi pun meminta seluruh tim Kampung Tanggap Bencana (KTB) untuk meningkatkan kewaspadaan, serta mengintensifkan komunikasi.
Heroe mengatakan, potensi bencana banjir, serta longsor masih mengintai sejumlah titik di Kota Yogyakarta sepanjang musim penghujan.
Oleh sebab itu, komunikasi melalui handy talky, atau sering disebut patroli udara, harus diintensifkan oleh para relawan di setiap KTB.
"Patroli udara harus mulai diintensifkan lagi. Kalau biasanya cuma dua kali sehari, setiap pagi dan sore, sekarang sebisa mungkin jadi tiga, atau empat kali sehari, supaya kondisi wilayah terpantau," terangnya.
Baca juga: APMI Dibentuk untuk Memajukan Eksosistem Pertunjukan dan Festival Musik Indonesia
Baca juga: Personelnya Diduga Intimidasi Pedemo, Ini Kata Dansat Brimob Polda DI Yogyakarta
Baca juga: Antisipasi Libur Panjang, Wisatawan di Candi Borobudur Jalani Swab dan Rapid Test Secara Acak
Ia mengakui, patroli udara semacam ini cukup efektif untuk memetakan potensi bencana, sehingga petugas dan relawan bisa mengantisipasinya lebih dahulu.
Khususnya, mengenai ketinggian air tiga sungai besar yang melintasi beberapa titik, di wilayah Kota Yogyakarta.
"Apalagi, sesuai dengan perkiraan BMKG, musim penghujan tahun ini bisa meningkat sampai 40 persen karena La Nina. Otomatis potensi banjir dan tanah longsor pun lebih besar dan wajib diantisipasi," tandasnya.
Di samping itu, orang nomor dua di Kota Yogyakarta itu juga meminta pada KTB untuk mempersiapkan segala peralatan mitigasi bencana, agar semuanya siap kala terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Baca juga: Cerita Sabar Gorky, Pria Asal Solo dengan Satu Kaki Taklukan Tiga Puncak Tertinggi di Dunia
Baca juga: PHRI DI Yogyakarta: Libur Panjang 4 Hari, Okupansi Hotel Diharapkan Mencapai 80 Persen
Baca juga: DPC HIPPI Sleman Diharapkan Bisa Gerakkan Ekonomi Kerakyatan
Lalu, melakukan pengecekan pada sejumlah sarana di lingkungannya.
"Seperti kondisi talud di bentaran sungai. Kalau ada muncul retakan, atau terlalu curam, segera laporkan, karena rawan longsor. Kemudian, peralatan seperti pompa air dan senso, dicek kondisinya, agar sewaktu-waktu dibutuhkan itu kondisinya siap," tegasnya.
Sekadar informasi, hingga kini 115 KTB sudah terbentuk di Kota Yogyakarta.
Bagi perkampungan yang belum dibentuk, diharapkan pengurus kampung bersama Kaltana (Kelurahan Tangguh Bencana) bisa berperan aktif dalam mensiagakan masyarakatnya menghadapi bencana. (aka)