10 Tahun Erupsi Gunung Merapi

Cerita Mobil Kijang Warna Merah Pelat AB Saat Merapi Meletus 2010

mobil Toyota Kijang warna merah nopol AB 1927 KZ, Pakde Kamto membantu mengevakuasi warga Ngrangkah hingga Kinahrejo.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Iwan Al Khasni
DOK Tribunjogja
Mobil Toyota Kijang warna merah nopol AB 1927 KZ saat-saat tergenting menjelang letusan eksplosif Merapi 2010 

“Saya pasrah saja. Kepikiran saja mau mati di ruang tamu atau di kamar. Bingung. Listrik juga mati,” imbuh Mujirah.

Ia mencoba membuka pintu rumah, tapi sedikit saja daun pintu terbuka, hawa panas meruap dari luar. Ia buru-buru menutup kembali pintunya.

“Panas sekali itu hawanya dari luar,” kata Mujirah. Setelah beberapa menit berlalu, Mujirah duduk terdiam di dalam rumah.

“Sunyi sekali. Benar-benar tidak ada suara apa-apa. Sapi-sapi juga diam, blas tidak ada lenguhan atau suara apapun,” kenangnya.

Ia melongok ke kandang, ternyata satu ekor sapi terjerat tali. Setengah tubuhnya di luar kandang. Sepertinya berusaha kabur saat wedhus gembel menyapu.

Bermenit-menit kemudian, ia baru mendengar sayup-sayup derum mesin mobil dan suara orang-orang.

“Siapa mereka saya tidak tahu. Saya hanya mendengar ada yang teriak minta tolong di jalan dekat rumah,” katanya.

Belakangan ia baru tahu, dua putra Lurah Umbulharjo waktu itu, Pak Bejo, terjebak di Ngrangkah, atau persisnya jalan menuju Kinahrejo.

Arif dan Wahyu, nama dua putra Pak Lurah Bejo, tersambar awan panas dan mengalami luka bakar serius.

“Saya mendengar ada yang nanya, kamu siapa? Wahyu dan Arif, putra Pak Bejo,” ujar Mijirah menirukan yang didengarnya petang itu.

Baca juga: Kisah Tujuh Petugas Naik Puncak Gunung Merapi Meletus Dahsyat 2010

Kedua korban diangkut mobil bak terbuka milik Bagyo, sekarang jadi Kepala Dusun Ngrangkah, kendaraan pertama yang masuk Kinahrejo setelah letusan besar petang itu.

Mujirah kemudian keluar rumah menenteng senter, ikut naik mobil bak terbuka, yang langsung melesat ke arah Balai Desa Umbulharjo.

Berhenti sebentar, mobil langsung meneruskan perjalanan membawa korban luka bakar ke RS Panti Nugroho, Pakem. Mujirah ikut ke rumah sakit itu, hingga paginya dipindah ke pengungsian.

Rentetan letusan Merapi Oktober-November 2010, membuat rumah temboknya di Dusun Ngrangkah ludes, menyisakan pondasi belaka.

Ia hanya smepat menyelamatkan empat ekor sapinya, keesokan harinya, atau Rabu 27 Oktober 2010. Sapi-sapi itu semuanya berluka bakar. “Mesakke (kasihan) keadaannya,” katanya.

Ternak piaraannya itu dipindahkan ke tanah kosong di sebelah timur Balai Desa Umbulharjo, sebelum beberapa hari kemudian dipindahkan lagi ke lokasi aman di Sleman.

Mengingat momen 10 tahun lalu, Mujirah hanya bisa bersyukur semua keluarganya selamat dari bencana mengerikan itu.

Suasana seram ketika ia terjebak di dalam rumah, yang sekelilingnya diterjang awan panas, masih ia ingat betul.

Jauh sesudah jadi pengungsi, Mujirah yang tidak lulus SD, memperoleh jatah rumah di Huntap Karangkendal, Umbulharjo. Tapi ia kini tinggal di komplek Bumi Perkemahan Sinolewah.( Tribunjogja.com | Setya Krisna Sumargo )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved