10 Tahun Erupsi Gunung Merapi
Cerita Mobil Kijang Warna Merah Pelat AB Saat Merapi Meletus 2010
mobil Toyota Kijang warna merah nopol AB 1927 KZ, Pakde Kamto membantu mengevakuasi warga Ngrangkah hingga Kinahrejo.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Iwan Al Khasni
Pria berusia 61 tahun itu mengaku bersyukur, lolos dari terjangan awan panas. Andai saja ia terlambat turun, mungkin tidak akan selamat.
Mobil Kijang merahnya juga masih dirawat sangat baik. “Saya cat ulang, karena habis erupsi itu semua berkarat karena abu vulkanik itu sangat korosif,” ujar Kamto.
Mobil itu terus menemaninya berkegiatan di lereng Merapi, dan ke berbagai tempat karena Sukamto aktif di seni kerawitan. Ia punya sanggar seni di Dusun Pandanpuro, Candibinangun.
Mobil yang sama ditumpangi wartawan Tribun pada 2 Oktober 2020, saat napak tilas jejak usaha penyelamatan yang dilakukan Kamto di sore jelang petang, Selasa, 26 Oktober 2010.
Baca juga: Kisah Tujuh Petugas Naik Puncak Gunung Merapi Meletus Dahsyat 2010

Mbah Mujirah, Warga Ngrangkah Lolos dari Wedhus Gembel
Mbah Mujirah, warga Ngrangkah, rumahnya beberapa puluh meter di bawah kediaman almarhum Mbah Maridjan, mengaku mengetahui Sukamto naik, melintas sebelah rumahnya, mengajaknya turun sore itu.
“Tapi saya nggak mau, karena harus ngurusi sapi. Di rumah sudah kosong tidak ada siapa-siapa. Simbok sudah mengungsi sehari sebelumnya (Senin, 25 Oktober 2010),” kata Mujirah kepada Tribun.
Mujirah juga beruntung lolos dari maut, meski ia terkurung di dalam rumahnya saat awan panas menyapu Kinahrejo.
Entah karena mukjizat atau sapuan awan panas tidak langsung menyapu rumahnya, Mujirah tidak mengalami luka berarti.
Ia sempat menjerang air dan memasukkan ke dalam dua termos untuk persediaan malam hingga paginya.
“Waktu mendengar tatit (suara kilat petir), saya baru yakin Merapi benar-benar meletus. Tadinya ya saya percaya tidak akan melewati Kinah,” kata perempuan abdi dalem Keraton Yogyakarta ini.
Nama abdi dalem Mujirah menurut serat kekancingan keraton,. Surakso Boga Taruno. Ia tercatat sebagai abdi dalem sejak sebelum 2006.
Ia tidak ingat persis waktunya pukul berapa saat itu, tapi Mujirah mendengar gelegar petir diikuti gemuruh dan berisik suara pohon patah atau bertumbangan.
“Saya hanya mondar-mandir di dalam rumah. Genting berjatuhan, pecah tertimpa dahan atau ranting pohon yang jatuh,” lanjutnya.
Selama beberapa menit, Mujirah hanya mondar-mandir di ruang tengah, dapur, mengintip dari balik pintu sapi-sapi di kandang sebelah rumahnya.