10 Tahun Erupsi Gunung Merapi
Cerita Menegangkan di Belakang Sirine Peringatan Letusan Gunung Merapi
PUKUL 17.02 WIB, Selasa 26 Oktober 2010, seismograf di Pos Kaliurang bergerak sangat cepat. Jarum pencatat sampai muncrat-muncrat tintanya.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Iwan Al Khasni
Sapari juga pernah mengalami kejadian campur aduk antara haru, sedih, tapi juga bahagia. 26 Oktober 2011, putrinya yg ke-7.
Sapari saat itu sedang bertugas di puncak Merapi.” Paginya, begitu di puncak, pas di sadel kawah mati, saya buka SMS, ternyata istri saya sudah melahirkan,” kenang Sapari.
Anak ragil atau bungsu Sapari dan Firyana itu diberi nama Nuriza Savriani. Malamnya, setelah turun dari puncak, Sapari baru bisa menengok istri dan putri mungilnya itu di klinik bersalin.
Pengalaman jauh dari keluarga di saat-saat genting seperti itu dianggapnya risiko pekerjaan. Sapari dlahirkan di Tanjungenim, Sumatera Selatan, lalu sekolah STM di Yogya.
Lulus bidang elektronika 1995, ia jadi tenaga honorer di Kantor Seksi Penyelidikan Merapi. Sapari ikut tes CPNS Direktorat Geologi Sumber Daya Mineral Kementerian ESDM pada 2004.
Letusan Merapi Oktober-November 2010, di mata Sapari memang tidak pernah terbayangkan besarnya. Ia juga tidak pernah membayangkan akan sedemikian dahsyat kekuatannya.
Seminggu sebelum letusan, Sapari ikut tim 7 ke puncak. Ia duduk, berdiri, melangkah di permukaan kawah Merapi, merasai getaran demi getaran gunung yang sudah menggembung itu. ( Tribunjogja.com |Xna )