10 Tahun Erupsi Gunung Merapi
Cerita Menegangkan di Belakang Sirine Peringatan Letusan Gunung Merapi
PUKUL 17.02 WIB, Selasa 26 Oktober 2010, seismograf di Pos Kaliurang bergerak sangat cepat. Jarum pencatat sampai muncrat-muncrat tintanya.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Iwan Al Khasni
Suka dukanya bertugas sebagai pengamat Merapi sudah tak terbilang lagi. Sulit bagi Heru membagi kesan mana yang paling disukai dan sebaliknya.
“Bagi saya tugas memantau Merapi itu harus menggunakan jiwa. Selama 24 jam gunung itu harus diawasi,” imbuhnya.
Sebagai petugas, Heru kerap kecewa, kesal, marah, manakala peringatan yang dibuat petugs Merapi tak digubris orang.
“Apa yang sudah kita sampaikan, melakukan pencegahan, peringatan dini, tidak didengar masyarakat. Di situ saya merasa sangat sedih,” ungkapnya.
Diamuk Badai saat Perbaiki Alat di Pusung London
Kisah menegangkan berikutnya diceritakan Sapari Dwiyono. Teknisi instrumen pemantauan Merapi ini beberapa tahun lalu hampir terenggut nyawanya saat di lapangan.
Ia terhempas badai yang menerjang kawasan puncak. Titik kejadiannya di Pusung London. Beruntung, ia masih bisa menyambar semacam patok penahan, sehingga tidak terjungkal di jurang dalam di sisi utara Pasar Bubar.
“Tiba-tiba badai datang dari arah timur, sangat kuat. Kerikil sebesar ujung kelingking tangan jari orang dewasa saja terbang,” kata Sapari. Pusung London adalah punggungan bukit di sebelah timur Pasar Bubar.
Di lokasi ini terpasang sejumlah instalasi pemantauan aktivitas Merapi, antara lain instrumen seismik atau pendeteksi kegempaan. Pusung London juga titik pertemuan jalur pendakian dari arah Sapu Angin, Deles, Klaten dan Gunung Bibi di Boyolali.
Sapari, atau akrab dipanggil Mbah Darmo, adalah ahli instrumen pemantauan gunung di BPPTKG Yogyakarta. Pengalamannya diperoleh selama bertahun-tahun.
Sekurangnya sejak 1995 ketika ia pertama kali diterima sebagai tenaga honorer di instansi yang masih bernama Seksi Penyelidikan Gunung Merapi.
Selebihnya, mendaki ke puncak Merapi sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Kaki-kaki Mbah Darmo ini sangat kuat.
Napasnya panjang. Staminanya sulit ditandingi pendaki umumnya. Ia masuk di kelompok petugas di BPPTKG Yogyakarta yang dijuluki “Tim Celeng”.
Pengalaman mendebarkan lainnya, tiga hari sebelum Merapi meletus, tepatnya Sabtu 23 Oktober 2010, Sapari ditemani porter, ternyata masih mendekati puncak Merapi di sisi selatan.
Ia memperbaiki instrumen seismik dan pengukur deformasi di bawah Kendit. Ia merasakan tubuh gunung berderak-derak tanpa putus, menakutkan.