Misteri Hilangnya Virus Mematikan yang Pernah Ada di Dunia, Mulai Cacar Zaman Viking hingga SARS
Virus Corona baru, SARS-CoV-2 yang masih memiliki kerabat dengan SARS yang mewabah pada 2003 lalu, kini menjadi ancaman baru bagi dunia.
Namun, masa inkubasi virus SARS relatif lebih lama, sehingga para tenaga kesehatan memiliki banyak waktu untuk melakukan tracing untuk menemukan siapa saja yang tertular.
Kendati demikian, tanpa upaya global untuk mengeliminasi SARS, dan sifat bawaan dari virus tersebut yang membuatnya lebih mudah dihadapi, hampir dipastikan pandemi itu akan memburuk dan tidak terkendali.
Selain SARS, hanya ada dua virus lain yang didorong ke ambang kepunahan, yakni cacar dan rinderpest, yang menginfeksi hewan ternak.
"Tidak mudah, sangat sulit saat Anda mendapat virus yang telah beradaptasi dengan baik," ungkap Stanley Perlman, ahli mikrobiologi di Universitas Iowa. Akhir perang dengan kedua virus tersebut telah dilakukan dengan vaksin, yang juga dipastikan akan mengeliminasi polio. Angka kasus polio dikabarkan telah menurun hingga 99 persen sejah tahun 1980-an.
Tampaknya, virus campak juga akan segera menyusul virus polio menuju kepunahan, meski saat ini upaya itu terhambat oleh perang, gerakan antivaksin dan COVID-19.
Virus tidak akan punah

Sayangnya, ada beberapa virus yang sepertinya tidak akan punah, karena manusia bukan satu-satunya inang bagi mereka.
Seperti wabah Ebola, pada manusia telah berakhir beberapa kali. Setidaknya ada 26 wabah di Afrika sejak virus ebola ditemukan pada tahun 1976.
Umumnya, wabah cenderung terjadi ketika virus melompat dari hewan ke manusia lalu menginfeksi atau menular ke manusia yang lain.
Biasanya virus melompat dari kelelawar dan selama masih ada hewan ini, virus mungkin akan selalu ada.
Berdasarkan analisis Emma Glennon dan koleganya di Universitas Cambridge, di Guinea, Afrika Barat ditemukan beberapa jenis Ebola yang memiliki perbedaan tipis.
Tim peneliti menduga kemungkinan virus tersebut telah berpindah dari satu hewan ke manusia kira-kira sebanyak 118 kali secara terpisah.
Ilmuwan mengungkapkan dari enam spesies Ebola, hanya ada satu vaksin untuk satu spesies, yakni yang menewaskan 11.000 orang di Afrika Barat antara 2013 dan 2016.
"Pada SARS menghilang karena tidak ada inang yang jelas," kata Perlman. Sebab, SARS diduga melompat ke manusia dari musang palem, mamalia hutan yang dianggap sebagai makanan lezat di China.
Kendati demikian, Perlman menunjukkan bahwa virus tidak begitu saja kembali ke spesies ini, karena inang tersebut juga biasanya tidak terinfeksi. Kemungkinan saja, kelelawar menjadi salah satu dari penyebab penularan ke manusia.
• Dikembangkan UGM, GeNose Mampu Deteksi Virus Corona Dalam Waktu 80 Detik