Bantul
Kelompok Budidaya Ikan di Bantul Belajar Kembangkan Sidat
Ikan dengan nama ilmiah Anguilliformes itu bahkan menjadi salah satu bintang utama dalam komoditas ekspor nasional.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
Sebab, ikan sidat di negara Eropa hingga Jepang, kata dia, sudah mulai habis sehingga banyak yang mencari sidat di Indonesia.
Menurutnya, sidat banyak dicari di luar negeri untuk menjadi bahan baku aneka macam olahan makanan.
Namun sebaliknya, di Indonesia terutama di pantai selatan Yogyakarta, sidat justru belum dikenal luas.
Padahal Sidat memiliki nilai ekonomis yang menjanjikan.
Harganya cukup tinggi.
"Sidat anak-an, sekilo bisa sampai Rp 1 juta. Kalau sudah sampai penampungan bisa Rp 2 juta," tuturnya. Daerah yang sudah lumayan banyak sidat menurutnya ada di Sukabumi. Ikan Sidat, kata dia, memiliki pangsa pasar luas dan memiliki peluang ekonomi yang tinggi.
Kendati demikian, sidat adalah ikan anugerah Tuhan untuk manusia.
Benih sidat sampai saat ini masih mengandalkan dari alam.
Belum bisa dikembangbiakan. Sebab itu, Krismono mengatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan sedang membuat sekaligus menyosialisasikan Rancangan Pengelolaan Perikanan (RPP) Sidat.
Harapannya, sidat sebagai sumber daya hayati tetap lestari untuk warisan generasi selanjutnya.
Di lain sisi, sidat sebagai peluang potensial yang dimiliki Indonesia harus dapat mensejahterakan masyarakat. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sidat-3.jpg)