Aksi Rakyat Memanggil

Aksi 'Rakyat Memanggil' di Pertigaan Gejayan Digelar Siang Ini, Kritisi Pemborosan Anggaran dan MBG

Forum Cik Di Tiro bersama kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta akan menggelar aksi unjuk rasa hari ini di Pertigaan Gejayan

Tayang:
Istimewa
AKSI RAKYAT MEMANGGIL - Poster Rakyat Memanggil yang akan dilaksanakan di Simpang Tiga Gejayan pada Sabtu (13/6/2026) sore ini. Elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Forum Cik Di Tiro bersama kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta akan menggelar aksi unjuk rasa pada hari ini, Sabtu (13/6/2026). Aksi ini dipusatkan di kawasan Pertigaan Gejayan. 

Ringkasan Berita:
  • Masyarakat sipil dan mahasiswa berencana melakukan protes hari ini, 13 Juni, di persimpangan Gejayan mulai pukul 14.00 WIB.
  • Tuntutan utama meliputi mengatasi pelemahan Rupiah, mengkritik pemborosan anggaran, dan masalah program MBG.
  • Prof. Masduki menegaskan tiga fokus; potensi seruan pengunduran diri Presiden Prabowo jika diabaikan.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Forum Cik Di Tiro bersama kelompok mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta akan menggelar aksi unjuk rasa pada hari ini, Sabtu (13/6/2026). Aksi ini dipusatkan di kawasan Pertigaan Gejayan.

Eskalasi pergerakan ini terlihat dari seruan yang beredar luas di media sosial. Melalui akun Instagram resminya, Senat Mahasiswa UGM (@semaugm.official) telah mengunggah poster bertajuk "SERUAN AKSI BERSAMA" yang menjadwalkan aksi turun ke jalan pada hari Sabtu, 13 Juni 2026, mulai pukul 14.00 WIB hingga tuntutan terpenuhi atau "Menang".

Dalam poster tersebut, terdapat visual siluet tangan mengepal yang menghancurkan tumpukan balok bertuliskan berbagai akar persoalan negara saat ini, yakni: "PAJAK UMKM", "UU POLRI", "BBM NAIK", "MBG RUNGKAD", "RUPIAH LEMAH", dan "MILITERISME".

Narasi perlawanan dan kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah tertuang dengan tegas dalam keterangan (caption) unggahan seruan aksi tersebut.

"Kawan-kawan, saat ini demokrasi kita sedang dibajak! Ruang-ruang kebebasan semakin dicekik, kritik dibungkam dengan intimidasi, dan aparat negara yang seharusnya melindungi rakyat justru menjelma menjadi tameng kekuasaan," tulis akun @semaugm.official.

Panggilan untuk memadati jalanan juga diserukan untuk menyatukan elemen-elemen masyarakat yang selama ini terpecah.

"Mari turun ke jalan, lipat gandakan kekuatan, dan satukan suara yang sempat tercerai-berai. Tunjukkan kepada mereka bahwa rakyat tidak akan pernah tunduk pada kesewenang-wenangan!" lanjut seruan tersebut.

"Rapatkan barisan, saling jaga kawan di sebelahmu. Karena perubahan tidak lahir dari kepasrahan, melainkan dari keberanian kita memadati jalanan. Jika ketidakadilan sudah menjadi aturan, maka perlawanan adalah kewajiban! Hidup Rakyat Indonesia! #RevolusiAtauTidakSamaSekali!" tegas seruan mahasiswa itu.

Kulminasi dari berbagai persoalan 

Menanggapi masifnya gelombang protes ini, Akademisi sekaligus Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi dan Media Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Masduki, M.A., Ph.D., yang juga merupakan inisiator Forum Cik Di Tiro, membenarkan rencana aksi tersebut.

Ia menegaskan bahwa aksi massa turun ke jalan ini wujud kulminasi dari berbagai persoalan yang gagal dimitigasi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Prof. Masduki memaparkan bahwa ada tiga tuntutan esensial yang disuarakan oleh para aktivis dan mahasiswa dalam aksi ini. Tuntutan pertama secara spesifik menyoroti pelemahan nilai tukar Rupiah.

"Jadi, ada tiga hal penting yang menjadi fokus. Pertama, aksi ini adalah akumulasi atau kulminasi—semacam puncak—dari beberapa persoalan di masyarakat yang direspons oleh para aktivis. Tuntutan pertama adalah soal nilai tukar Rupiah yang terus terpuruk. Kita melihat tidak ada upaya mitigasi atau terobosan kebijakan yang progresif. Misalnya, kami menuntut agar menteri-menteri di sektor ekonomi, seperti Menteri Keuangan atau Gubernur Bank Indonesia beserta wakilnya, untuk segera diganti demi mengembalikan kepercayaan publik," ujar Prof. Masduki.

Tuntutan kedua berfokus pada evaluasi kinerja pemerintah, mengkritik postur kabinet yang dianggap boros, serta karut-marutnya pelaksanaan program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Kedua, kami menyoroti perilaku Prabowo yang boros. Mulai dari perjalanan ke luar negeri yang berkali-kali, hingga postur kementerian (kabinet) yang memang gemuk sejak awal. Jadi, ada jarak (disconnection) antara apa yang secara deklaratif dan patriotis disampaikan oleh Prabowo di berbagai pidato, dengan kenyataan di lapangan terkait penghematan. Klaim bahwa fondasi ekonomi kita kuat nyatanya tidak terbukti. Selain itu, ada masalah terkait program-program strategis Prabowo yang berantakan. Salah satunya adalah kasus dugaan korupsi di program MBG kemarin, yang sampai mengakibatkan kepala dan wakil kepalanya ditangkap. Ini menunjukkan adanya masalah serius di tubuh MBG dan Koperasi Merah Putih," paparnya secara lugas.

Isu ketiga yang menjadi dasar penggerak massa adalah persoalan kemunduran demokrasi sipil dan penegakan hukum, terutama terkait militerisasi dan kepemimpinan institusi Polri.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved