Breaking News:

Update Corona di DI Yogyakarta

Kebutuhan Logistik Pasien OTG di Shelter Rusunawa Bener Bakal Dipenuhi Dapur Umum Posko Tagana

Selama menjalani isolasi mandiri di shelter, pasien akan mendapat jatah makan tiga kali dalam sehari.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Azka Ramadhan
Kepala Dinsos Kota Yogyakarta, Agus Sudrajat. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta telah menyiapkan skema penyaluran logistik untuk penuhi kebutuhan pasien orang tanpa gejala (OTG) Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di shelter rumah susun sewa (Rusunawa) Bener, Tegalrejo.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Yogyakarta Agus Sudrajat memastikan, kebutuhan pasien bakal dipenuhi pemerintah, yang disuplai langsung oleh dapur umum di Posko Tagana.

Menurutnya, dapur umum tak dibangun di sekitar selter, karena lahan terbatas.

Ia menjelaskan, untuk keperluan masak-memasak butuh sebuah area khusus agar tidak terganggu oleh aktivitas lain.

Pemkot Yogya Berupaya Shelter OTG Covid-19 di Rusunawa Bener Bisa Beroperasi Mulai 23 September

Selain itu, pihaknya memang sangaja memusatkan dapur umum di Posko Tagana, agar bisa menyuplai logistik bagi OTG di selter-selter wilayah.

"Jadi, di masyarakat itu bila nanti ada yang membutuhkan, seperti di Pandeyan kemarin, bisa disuplai juga dari dapur umum ini," ujarnya, Minggu (20/9/2020).

Ia memastikan, selama menjalani isolasi mandiri di shelter, pasien akan mendapat jatah makan tiga kali dalam sehari.

Dinsos sendiri telah menganggarkan, untuk biaya satu kali makan, setidaknya dibutuhkan Rp 20 ribu, yang nanti dialokasikan dari anggaran BPBD.

"Sebetulnya kita tinggal menghitung pasiennya, setiap orang saya hitung anggarannya Rp 20 ribu, namun sebetulnya kita juga harus kita menghitung untuk kebutuhan kalori tinggi proteinnya," ungkap Agus.

Tidak Semua OTG Covid-19 di Kota Yogya Bisa Isolasi di Shelter Rusunawa Bener, Ini Kriterianya

"Nanti kita minta teman kesehatan menyiapkan ahli gizi untuk melihat menu-menunya, meski di Tagana sudah ada menu yang tinggi protein. Tapi, kebutuhan khusus ya kita siapkan, misal ada bayi, lansia atau orang yang alergi makanan tertentu," imbuhnya.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan, alat makan yang nantinya digunakan oleh pasien bersifat sekali pakai, selaras standar yang ditetapkan.

Pasien pun diwajibkan memenuhi protokol dengan memsukkan sampah makanan ke dalam kantung infeksius dalam posisi terikat.

"Itu harus diterapkan betul, ini nanti disipakan di kamar pasien, kantung-kantung infeksius ini kegunaannya cukup penting untuk sisa makanan dan penanganan linen, linen itu kegunaannya untuk sarung bantal kotor dan sebagainya," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved