Update Corona di DI Yogyakarta
Pulihkan Ekonomi Terdampak COVID-19, Dispar Gunungkidul Inisiasi Gerakan BISA
Gerakan BISA merupakan program dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul menginisiasi Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, Aman) pada Selasa (18/08/2020).
Inisiasi dilakukan di Balai Kalurahan Pampang, Kapanewon Paliyan.
Kepala Dispar Gunungkidul Asti Wijayanti menjelaskan Gerakan BISA merupakan program dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
"Jadi program ini bertujuan mengatasi dampak COVID-19, menggeliatkan lagi perekonomian masyarakat di bidang wisata," jelas Asti.
Sebagai implementasinya, Asti mengatakan akan ada kegiatan bersih-bersih lingkungan.
• Efektifkan Protokol Kesehatan, SAR Lakukan Razia Masker Tiap Akhir Pekan di Gunungkidul
Sebab selama 3 bulan aktivitas wisata tutup, sehingga kondisi destinasi jadi kurang terawat.
Ia berharap sentuhan program BISA ini mampu menyiapkan destinasi wisata untuk menyambut wisatawan.
"Bisa dibilang perwujudannya lebih ke program Padat Karya," kata Asti.
Pampang pun menjadi percontohan awal untuk Gerakan BISA, selain Kalurahan Ngalang di Gedangsari.
Dipilihnya Pampang sebagai lokasi program karena potensi wisata yang besar dari kerajinan peraknya.
Menurut Asti, perajin perak di Pampang ada banyak namun belum satu pun yang berminat untuk menjadi pengusaha.
Pelatihan kewirausahaan pun turut diselipkan dalam Gerakan BISA ini.
• HUT ke-75 RI, Forkompimda Gunungkidul Turun ke Jalan Lakukan Gebrak Masker
"Kami harap kerjasama ini bisa berlanjut ke desa-desa lain sesuai potensi yang dimiliki," katanya.
Terpisah, Lurah Pampang Iswandi mengatakan dampak COVID-19 pada industri kerajinan perak begitu luar biasa.
Menurutnya, pesanan perak hasil kerajinan turun hingga 80 persen selama awal pandemi.
Ia pun berharap progam BISA ini nantinya mampu membangkitkan kembali industri perak Pampang di era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).
Para perajin pun akan ditingkatkan kemampuannya agar mampu jadi pengusaha.
"Jadi mereka mendapat pelatihan fotografi agar produk yang dipotret memiliki nilai jual untuk dipasarkan, sekaligus pemasaran online," jelas Iswandi. (TRIBUNJOGJA.COM)