Yogyakarta
M Dwi Marianto dan Joseph Wiyono Gelar Pameran Daring Sketsa Zig Zag
M Dwi Marianto dan Joseph Wiyono membuat belasan karya sketsa yang menghadirkan sisi romantisme Yogyakarta dan sosok orang di sekeliling mereka.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Gaya Lufityanti
Joseph Wiyono dan M. Dwi Marianto adalah praktisi seni yang tidak ingin karya sketsanya bernasib ibarat lilin yang berada dalam sebuah gentong.
Mereka adalah dua pribadi yang beda karakter, namun sepakat menggelar pameran bersama.
Sejak sebelum pandemi merebak, di awal Februari 2020 kedua seniman sketsa ini yang juga sama-sama mengajar di FSR ISI Yogyakarta, sepakat memamerkan karya karya sketsa mereka di Miracle print, Yogyakarta.
Setelah beberapa detil teknis disepakati, merebak bencana multidimensional akibat pandemi Corona yang melanda hampir semua negara di dunia.
Lockdown, Social Distancing, Pembatasan Sosial Luar Biasa, dan istilah istilah lain berkait dengan Covid-19 bermunculan.
• Kebaya Warisan Jadi Media Literasi dalam Pameran Roepa Kebaya
Ketika sekolah sekolah, perguruan tinggi, kantor-kantor negeri dan swasta, dan berbagai perhelatan, serta acara-acara keagamaan di rumah-rumah ibadah ditutup, dihentikan, atau ditunda masyarakat-masyarakat dimana saja melihat betapa pentingnya komunikasi online, live streaming, serta aktivitas sosial dan bisnis melalui internet.
Peribadatan untuk berbagai agama saja dibatalkan, apalagi perhelatan seni.
Pameran, diskusi seni, art market terkendala.
Tak dapat diselenggarakan secara konvensional.
Menanggapi perkembangan zaman sekarang ini, Wiyono dan Dwi tetap melakukan sesuatu untuk karya-karya sketsanya yang sejauh ini cuma tersimpan.
Senyampang ini Wiyono dan Dwi berupaya mengubah status karya sketsa mereka yang diam, beku, tersimpan dalam file-holder atau dalam ruang penyimpanan lemari, jadi terekspos, beredar, dan terpublikasi.
Dalam mewujudkan keinginan ini J. Wiyono dan M. Dwi Marianto memilih awalan kata trans yang artinya melintasi, melewati, atau melampaui.
• Mengenang Kebaya Masa Lampau Lewat Pameran Roepa Kebaya
Dengan awalan trans kedua seniman sketsa ini memilih beberapa kata yang dibutuhkan, diantaranya, transport, transform, transmit, transfer dan transfigurasi.
"Transport, artinya membawa atau mengangkut dari satu tempat ke tempat lain. Ini upaya membawa keluar karya-karya sketsa yang tadinya tersimpan dalam file holder, atau yang masih tersimpan di rak penyimpanan lemari, ke ruang pajang pameran di Miracle Print – sebuah art space yang dikelola oleh seorang pelaku militan seni bernama Syaharizal Pahlevi," terang Grace, seorang art manajemen yang didaulat mengurus pameran ini.
Lanjut Grace, kedua seniman ini mengartikan membawa sketsa ke ruang virtual yang akan menjadi e-catalogue, dan e-book juga membawanya ke ruang pamer nyata di Miracle Print di Yogyakarta untuk dipamerakan secara konvensional.
"Melalui pameran real dan virtual ini tentu saja kedua seniman ini berharap agar gema, berita, dan cerita pameran mereka berjudul Zig Zag, dapat melintasi berbagai batas, karena melalui media internet apapun dapat menjadi transnational, atau menjadi trans apa saja," imbuh Grace. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/m-dwi-marianto-dan-joseph-wiyono-gelar-pameran-daring-sketsa-zig-zag.jpg)