Yogyakarta

Dewan Kebudayaan DIY Kebut Jadikan Sumbu Filosofis sebagai Warisan Budaya Dunia tahun 2020

Jadwal semula untuk sidang Sumbu Filosofis DIY dijadwalkan pada Juli 2020. Namun mundur dan belum ada informasi selanjutnya.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Ketua Dewan Kebudayaan DIY Djoko Dwiyanto (kiri) dan Koordinator Komite Pertimbangan Tak Benda Dewan Kebudayaan DIY KPH Notonegoro 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketua Dewan Kebudayaan DIY Djoko Dwiyanto yang baru saja dilantik oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan bahwa dia akan mengebut upaya untuk menjadikan Sumbu Filosofis DIY sebagai warisan budaya dunia.

Dalam waktu dekat ia akan mengumpulkan beberapa personil kebudayaan untuk mendukung rumusan tersebut.

"Sama-sama kita ketahui perjalanan waktu pengusulan warisan budaya dunia Sumbu Filosifis DIY setahu saya 2019 lalu sudah dicadangkan untuk disidangkan. Jadi semula tentatif. Kalau tidak ada halangan 2020 disidangkan," ungkapnya saat jumpa pers di Gedung Pracimasana Kompleks Kepatihan, Selasa (11/8/2020).

Ia menjelaskan bahwa tahun lalu tahun lalu yang telah disidangkan UNESCO adalah Sawahlunto di Sumatera Barat yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya dunia. 

Sultan Lantik Dewan Kebudayaan DIY, Ada 32 Orang Pengurus di dalamnya

Djoko menambahkan, bahwa jadwal semula untuk sidang Sumbu Filosofi DIY dijadwalkan pada Juli 2020. Namun mundur dan belum ada informasi selanjutnya.

"Tapi dalam hitungan bulan harus segera dipresentasikan dan oleh UNESCO disahkan sebagai warisan budaya dunia," ucapnya.

Implementasinya, lanjut Djoko, yakni kegiatan yang mendukung warisan budaya dunia sudah harus berjalan.

Ia menyebut proyek Joteng Lor Wetan dan barat daya, merupakan satu dari beberapa contoh yang dirumuskan dalam pertemuan Dewan Kebudayaan DaiG.

"Sirip-sirip sumbu filosofis harus mendapatkan penanganan. Kalau tidak diperhatikan, percuma juga karena itu dukungan sosial masyarakat Yogya terhadap sumbu filosofis," bebernya.

Meski belum memasuki masa persidangan, namun Djoko mengaku optimis bahwa Sumbu Filosofis DIY akan menjadi warisan budaya dunia berikutnya.

"Optimis karena potensi kita Pak Gubernur yang adalah Raja. Kedua, masyarakat Yogya relatif patuh artinya tidak neko-neko kecuali kalau ada provokator. Optimis kalau kami," tegasnya.

Terkait banyaknya personil dalam keanggotaan Dewan Kebudayaan DIY, Djoko mengatakan bahwa jumlah tersebut sudah sesuai.

Unik, Lemari Makan Gratis Ajak Warga Jogja Berbagi di Tengah Pandemi Covid-19

"Personil besar dan terkesan mewah karena itu amanah dan terjemahan dari UUK. Ditambah kekuatan baru yang pemikirannya bisa memperkuat," ungkapnya.

Sementara itu, KPH Notonegoro selaku Koordinator Komite Pertimbangan Tak Benda Dewan Kebudayaan DIY mengatakan peranan Keraton sangat besar dalam hal kebudayaan, baik sebagai sumber referensi juga kekayaan budaya seni adiluhung.

Halaman
12
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved