Kim Jong Un Berdalih Senjata Nuklir Justru Mencegah Perang

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan tidak akan ada perang lagi, karena senjata nuklir negara itu menjamin keselamatan dan masa depannya.

Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
AFP/KCNA VIA KNS
Gambar yang diambil pada 24 Agustus 2019 dan dirilis 25 Agustus oleh kantor berita Korea Utara 9KCNA) memperlihatkan Pemimpin Korut kim Jong Un merayakan uji coba senjata peluncur roket berukuran besar di lokasi yang tidak diketahui. 

TRIBUNJOGJA.COM, SEOUL - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan tidak akan ada perang lagi, karena senjata nuklir negara itu menjamin keselamatan dan masa depannya.

Namun begitu, media pemerintah mengatakan pada hari Selasa mengatakan bahwa Korea Utara masih juga menghadapa tekanan dari luar dan ancaman militer.

Kim membuat pernyataan ketika ia merayakan ulang tahun ke-67 dari akhir Perang Korea 1950-53, yang jatuh pada 27 Juli, dengan resepsi untuk para veteran, menurut kantor berita resmi KCNA.

“Negara itu mengembangkan senjata nuklir untuk memenangkan kekuatan absolut guna mencegah konflik bersenjata lainnya,” kata Kim dalam pidatonya yang dilakukan oleh KCNA, yang menekankan sifat defensif dari program tersebut.

"Sekarang kami mampu mempertahankan diri dalam menghadapi segala bentuk tekanan intensitas tinggi dan ancaman militer dari pasukan imperialis dan musuh," katanya dikutip Reuters.

"Berkat penangkal nuklir pertahanan diri yang andal dan efektif, tidak akan ada lagi perang, dan keselamatan dan masa depan negara kita akan dijamin selamanya."

Kim Jong Un hadiri latihan bersama tahunan Pyongyang, Jumat (28/2/2020). Sehari setelah Korea Selatan dan AS menunda latihan militer beraama sampai pemberitahuan lebih lanjut mengenai epidemi COVID-19
Kim Jong Un hadiri latihan bersama tahunan Pyongyang, Jumat (28/2/2020). Sehari setelah Korea Selatan dan AS menunda latihan militer beraama sampai pemberitahuan lebih lanjut mengenai epidemi COVID-19 (Yonhap)

Pidato itu disampaikan di tengah pembicaraan macet yang bertujuan membongkar program nuklir dan rudal Pyongyang dengan imbalan bantuan sanksi dari Washington.

Kim dan Presiden A.S. Donald Trump bertemu untuk pertama kalinya pada tahun 2018 di Singapura, meningkatkan harapan untuk negosiasi atas ancaman nuklir Korea Utara.

Namun KTT kedua mereka, pada 2019 di Vietnam, dan pertemuan tingkat kerja berikutnya berantakan.

Senjata nuklir

China dan Korea Utara disebut meningkatkan persenjataan senjata nuklir mereka, sementara negara-negara adidaya dunia lainnya seperti AS dan Rusia menarik mereka.

“Pada awal tahun ini, China memiliki 30 hulu ledak lebih banyak dibandingkan Januari 2019, sementara Korea Utara menambahkan hingga 20. Mereka sekarang memiliki 320 dan 30 hingga 40 hulu ledak, masing-masing,” menurut perkiraan yang dirilis oleh Stockholm International Peace Research Institute pada hari Senin.

Rudal nuklir milik China yang diklaim bisa terbang sejauh 2.000 mil, atau sekitar 3.218 kilometer.
Rudal nuklir milik China yang diklaim bisa terbang sejauh 2.000 mil, atau sekitar 3.218 kilometer. ()

Kedua negara komunis itu disebut sedang melakukan modernisasi pembaruan persenjataan nuklir yang membuat waswas negara lain di dunia.

“Tiongkok berada di tengah modernisasi yang signifikan dari persenjataan nuklirnya. Korea Utara sedang mengembangkan apa yang disebut triad nuklir untuk pertama kalinya, yang terdiri dari rudal darat dan laut baru serta pesawat berkemampuan nuklir," kata lembaga itu dikutip Fox News.

Selain itu, Korea Utara disebut terus memprioritaskan program nuklir militernya sebagai elemen sentral dari strategi keamanan nasionalnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved