Breaking News:

Yogyakarta

Pakar Ilmu Politik : Kampanye Pilkada Daring Perlu Perhatikan Substansi dan Kemasan

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY menyebut kampanye Pilkada kali ini diwacanakan akan lebih banyak dilakukan secara daring dan menggunakan media sos

TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Masa kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 26 September hingga 5 Desember atau sebanyak 71 hari.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DIY menyebut kampanye Pilkada kali ini diwacanakan akan lebih banyak dilakukan secara daring dan menggunakan media sosial.

Terkait hal tersebut, Bawaslu DIY mengatakan Bawaslu RI telah menjalin kerja sama dengan Facebook agar melakukan take down atau penarikan konten-konten kampanye yang dinilai melanggar atau bertentangan.

Selain itu, Bawaslu DIY juga masih menunggu peraturan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait pengawasan kampanye daring yang dianggap perlu dilakukan lebih ketat.

Efektivitas Kampanye Pilkada Daring Dipertanyakan, Masih Banyak Blank Spot di DIY

Mengenai efektivitas kampanye daring dalam menarik masyarakat, pakar ilmu politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Tunjung Sulaksono mengatakan dalam pendekatan political marketing, antara substansi dan kemasan merupakan dua hal yang sama penting.

“Sedikit yang saya tahu, kalau mau mempergunakan pendekatan political marketing, maka isi atas substansi kampanye akan sama pentingnya dengan kemasan atau cara menyampaikan,” ujar Tunjung kepada Tribunjogja.com beberapa waktu lalu.

Ada Arahan Jokowi dan Surya Paloh, Wahyu Purwanto Mundur dari Bursa Pencalonan Pilkada Gunungkidul

“Bagaimana mengemas substansi kampanye yang baik dengan media yang tepat dan dalam timing (waktu) yang tepat, untuk menyasar segmen masyarakat yang tepat mungkin bisa menjadi kata kunci untuk mendapat perhatian masyarakat pemilih,” sambungnya.

Ia menambahkan, pesan yang akan disampaikan kepada setiap kalangan pemilih mungkin sama, namun perlu pembeda pada cara penyampaian antar setiap segmentasi.

“Cara menyampaikan pesan untuk warga senior tentu berbeda dengan cara menyampaikan untuk generasi milenial,” pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM) 

Penulis: Maruti Asmaul Husna
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved