Selama Pandemi, UMKM Kuliner Dominasi Market Place Milik Pemda DIY
Selama Pandemi, UMKM Kuliner Dominasi Market Place Milik Pemerintah daerah DIY
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Hari Susmayanti
TRIBNJOGJA.COM, YOGYA - Usaha mikro, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang kuliner di wilayah Yogyakarta mendominasi penjualan di market palce "SiBakul".
Berdasarkan data dari pemerintah daerah Pemda) DIY melalui market place 'SiBakul' program gratis ongkos kirim, dari 400 UMKM yang tergabung sebanyak 70 persen ialah bidang kuliner.
Sedangkan sisanya, diikuti bidang lainnya seperti kerajinan tangan, fesyen, dan jasa.
Kepala Bidang Layanan Kewirausahaan, Dinas Koperasi dan UKM DIY, Wisnu Hermawan mengatakan, program ongkos kirim melalui 'SiBakul' memang dibuat untuk pelak UMKM semua sektor baik produk dan jasa.
Namun, selama masa pandemi, bidang kulinerlah paling mendominasi penjualan.
"Selama pandemi kuliner makanan mendongkrak penjualan hingga 92 persen dibandingkan dengan sektor lainnya. Padahal yang terdaftar dalam program ini, banyak seperti kerajinan tangan, fesyen, dan jasa," jelasnya kepada Tribunjogja, Minggu (26/07/2020).
• Pondok Pesantren Lintang Songo Bantul, Didik Santri jadi Seorang Santripreneur
• UMKM di Kecamatan Kalasan Kembangkan Website warungkalasan.com
Tingginya penjualan kuliner, diakui Wisnu, sebagai dampak dari adaptasi masyarakat selama masa pandemi.
Di mana, sempat terjadinya pembatasan aktivitas yang dilakukan pemerintah sebagai bentuk untuk menyikapi penularan dan penyebaran Covid-19.
"Ketika merebaknya pandemi, banyak orang yang diharuskan untuk berada di rumah mengurangi aktivitas di luar rumah. Tentunya, pemenuhan konsumsi makanan menjadi hal yang paling penting pada masa itu," tuturnya.
Akibatnya, permintaan yang datang dari konsumen tinggi dimanfaatkan para pelaku UMKM. Di mana 52 persen UMKM yang dulunya bergerak pada bidang fesyen, kerajinan tangan, dan jasa mulai beralih menjadi UMKM kuliner.
Wisnu juga menjelaskan, beralihnya UMKM ke bisnis kuliner sebagai strategi bertahan para UMKM dalam melihat peluang ketika masa pandemi ini.
"Tentu tidak masalah. Ini yang disebut sebagai cara survive dan membaca peluang agar tetap hidup. Terkadang, iklim bisnis memang sulit ditebak dan banyak faktor yang mempengaruhinya," pungkasnya. (Tribunjogja/Nanda Sagita Ginting)