Aktivitas Merapi
Tebing Kawah Gunung Merapi Terkikis, ke Depan Sektor Kali Boyong dan Krasak Perlu Diwaspadai
Letusan eksplosif Gunung Merapi pada 21 Juni 2020 yang terjadi sebanyak dua kali mengakibatkan morfologi puncak Gunung Merapi menjadi sedikit berubah.
Penulis: Maruti Asmaul Husna | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Maruti Asmaul Husna
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Letusan eksplosif Gunung Merapi pada 21 Juni 2020 yang terjadi sebanyak dua kali mengakibatkan morfologi puncak Gunung Merapi menjadi sedikit berubah.
Berdasarkan analisis foto Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) dari Pos Ngepos, sektor barat daya tebing kawah lava-1997 terkikis sekitar 19.000 m3.
BPPTKG mengeluarkan pernyataan, untuk sementara perubahan morfologi di lava-1997 ini belum mengubah arah ancaman utama, yaitu ke selatan-tenggara atau ke arah Kali Gendol.
Mantan Kepala BPPTKG, Subandrio menganggap hal ini merupakan suatu hal yang logis.
• Puncak Merapi Terkikis 19.000 Meter Kubik Pasca-erupsi 21 Juni 2020
Menurutnya, terkikisnya dinding kawah mungkin saja terjadi jika letusan cukup besar dan luasan permukaan kubah yang baru menjadi lebih luas.
“Kikisan terjadi ketika tenaga letusan cukup besar dan kebetulan luasan permukaan kubah yang baru itu menjadi lebih luas, jadi dia mengikis dinding yang paling lemah,” jelas Subandrio kepada Tribunjogja.com, Selasa (30/6/2020).
Ia menerangkan, dikarenakan letusan pada 21 Juni 2020 cukup besar hingga memunculkan tinggi kolom letusan 6.000 m dari puncak Merapi dan bertenaga cukup besar, terkikisnya tebing kawah menjadi logis karena permukaan kubah lava saat ini semakin besar dan luas.
“Material campuran antara gas dan piroklastik yang dikeluarkan saat letusan 21 Juni itu otomatis juga akan melebar, sehingga konsekuensinya mengikis dinding kawah. Salah satunya adalah lava-1997 itu terkikis karena letusan kemarin,” tuturnya.
• BREAKING NEWS : Update Covid-19 DIY 30 Juni 2020, Satu Keluarga Dinyatakan Positif
Subandrio menambahkan, pernyataan dari BPPTKG dinyatakan bahwa ancaman utamanya masih ke arah Kali Gendol, hal itu logis saja karena kawah masih terbuka ke arah Kali Gendol.
“Jadi, otomatis ancaman utamanya dominan masih ke arah Kali Gendol. Tapi, letusan gunung api khususnya Merapi itu bisa saja (berdampak pada) yang probabilitasnya kecil,” ungkapnya.
“Konsekuensinya ke depan apabila terjadi penyimpangan ya sektor Kali Boyong dan Krasak itu perlu diwaspadai, jika mengikuti lava-1997. Meskipun ini hanya kalau ya, kalau di lava-1997 itu menjadi front awal keluarnya magma, sektor situ yang perlu diwaspadai. Cuma sekali lagi, bahwa terkikisnya itu saya ikuti pernyataan BPPTKG bahwa ancaman terbesar masih ke arah Gendol,” sambungnya.
Ia memaparkan, pasca 2010 banyak terjadi erupsi Gunung Merapi yang sifatnya eksplosif, karena menurutnya magma Gunung Merapi masih kaya akan gas.
Erupsi yang eksplosif itu, lanjut dia, pernah diikuti dengan munculnya kubah lava baru pada Agustus 2018 dan kubah itu tumbuh secara lambat.
• Sejak 2019, Sudah Terjadi 15 Kali Letusan Eksplosif Gunung Merapi
“Kira-kira berlangsung hampir satu tahun, tetapi dengan laju pertumbuhan sangat lambat. Sehingga volume yang terbentuk di permukaan yang tampak hanya sekitar 400.000-an m3. Setelah itu berhenti,” ungkapnya.