Nelangsa Petani Cabai di Bantul, Harga Anjlok saat Panen Raya
Nelangsa Petani Cabai di Kabupaten Bantul, Harga Anjlog saat Panen Raya
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Petani cabai merah di Dusun Patihan, Desa Gadingsari, Sanden, Kabupaten Bantul terancam mengalami kerugian.
Sebab, harga jual komoditas pelengkap bumbu masak itu anjlok di pasaran.
Perkilogram cuma dihargai Rp 6.500 - Rp 7.000 di tingkat pengepul.
Jika dihitung-hitung, harga tersebut tak sebanding dengan biaya produksi yang sudah dikeluarkan oleh petani.
Seorang petani cabai di Gadingsari, Nur Rojiyanto mengatakan, musim ini di lahan seluas lebih dari 1.000 meter persegi, dirinya menanam 2.500 batang pohon cabai.
Saat panen tiba, semua tanaman cabai jenis imperial itu terpaksa dipanen sendiri. Sebabnya, karena harga jual menurun.
"Kalau sewa buruh (tenaga kerja) untuk panen jelas kami merugi," kata dia, Minggu (28/6/2020).
Ongkos produksi yang sudah dikeluarkan oleh Nur Rojiyanto untuk membeli bibit pohon cabai, penyiraman hingga pemupukan sebesar Rp 3 juta.
• Kronologi Tukang Cilok di Banyuasin Ditembak Mati Begal, Istri Histeris Lihat Suami Tewas
• The Grill, Steak Daging Import dengan Harga Terjangkau di Yogyakarta
Belum termasuk dihitung ongkos tenaga selama 70 hari perawatan.
Apabila saat panen, harganya Rp 7 ribu perkilogram, menurut dia, petani merugi.
Hasil panen tidak mampu menutup biaya yang telah dikeluarkan.
Sebab itu, dalam perhitungan Nur Rojiyanto akan lebih baik, apabila cabai yang telah berwarna merah dipanen sendiri.
"Agar bisa balik modal saja, kami sudah sangat senang," ucap dia.
Pihaknya memanen cabai merah bersama kedua orang tua dan adiknya.
Langkah tersebut, kata dia, sedikitnya lebih baik ketimbang harus menyewa tenaga kerja untuk panen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/nelangsa-petani-cabai-di-bantul-harga-anjlog-saat-panen-raya.jpg)