Wabah Virus Corona

Hasil Penelitian: Semakin Tinggi Hormon Stres, Risiko Kematian Pasien COVID-19 Kian Besar

Pasien Virus Corona dengan kadar hormon kortisol yang sangat tinggi dalam darahnya cenderung lebih cepat memburuk dan meninggal dunia.

Tayang:
Editor: Rina Eviana
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Sebuah penelitian baru menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres dengan risiko kematian tinggi pasien COVID-19.

Dalam studi tersebut mengungkap fakta bahwa pasien Virus Corona dengan kadar hormon kortisol yang sangat tinggi dalam darahnya cenderung lebih cepat memburuk dan meninggal dunia.

Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan para peneliti di Imperial College London, di mana menunjukkan kadar kortisol jadi penanda keparahan penyakit seseorang.

Ilustrasi pasien corona, virus corona, Covid-19
Ilustrasi pasien corona, virus corona, Covid-19 (Shutterstock/Kobkit Chamchod via kompas.com)

Hormon kortisol disebut juga hormon stres, yang diproduksi oleh tubuh sebagai respons terhadap stres, seperti penyakit.

Kortisol memicu perubahan metabolisme, fungsi jantung, dan sistem kekebalan tubuh untuk membantu tubuh mengatasi stres.

Kadar kortisol pada orang dalam kondisi sehat atau sedang istirahat adalah 100-200 nm/L, dan hampir nol ketika tidur.

Pada orang sakit, kadar kortisol yang rendah bisa mengancam jiwa. Tetapi tingkat kadar kortisol yang berlebihan juga sama berbahayanya pada pasien, efeknya peningkatan risiko infeksi dan hasil yang buruk.

Dalam keterangan resmi Imperial College London yang diterima Kompas.com, Jumat (19/6/2020), penelitian dilakukan tim pada 535 pasien dengan dugaan COVID-19 yang dirawat di tiga rumah sakit di London, yakni Charing Cross, Hammersmith, dan St Mary's.

Terdiri dari sebanyak 403 pasien telah terkonfirmasi positif COVID-19 dan 132 pasien non-COVID-19. Penelitian berlangsung dalam periode 9 Maret-22 April 2020.

OBAT COVID-19: Mengenal Dexamethasone dan Cara Kerjanya Melawan Virus Corona

Tes swab dan tes darah rutin, termasuk pengukuran awal kadar kortisol, dilakukan pada pasien setelah 48 jam masuk ke rumah sakit.

Hasil pengamatan menunjukkan, kadar kortisol pada pasien dengan COVID-19 jauh lebih tinggi daripada pasien non-COVID-19.

Tingkat kadar kortisol pada pasien kelompok COVID-19 rata-rata mencapai 3.241 nm/L. Ini jauh lebih tinggi dari umumnya yang terjadi pada seorang pasien setelah melakukan operasi besar yang mencapai 1.000 nm/L.  

Di antara pasien COVID-19, mereka yang memiliki level kortisol 744 nm/L ke bawah, hanya bertahan hidup rata-rata selama 36 hari.

Sementara pasien COVID-19 dengan level kortisol di atas 744 nm/L, memiliki kelangsungan hidup rata-rata hanya 15 hari.

"Dilihat dari sudut pandang seorang endokrinologis, masuk akal bahwa pasien Covid-19 yang paling sakit akan memiliki kadar kortisol yang lebih tinggi, tetapi tingkat ini ternyata sangat mengkhawatirkan," ujar Profesor Dhillo, Kepala Divisi Diabetes, Endokrinologi dan Metabolisme di Imperial College London, yang juga ketua penelitian ini.

ILUSTRASI - Suasana simulasi penanganan virus Corona di RS Margono Soekarjo, Purwokerto.
ILUSTRASI - Suasana simulasi penanganan virus Corona di RS Margono Soekarjo, Purwokerto. (TRIBUNJATENG/Permata Putra Sejati)

Ia mengatakan, ketika lonjakan pasien COVID-19 terjadi di rumah sakit-rumah sakit London pada tiga bulan lalu, hanya sedikit informasi yang dimiliki untuk bisa melakukan triase, yakni tindakan untuk memilah pasien berdasarkan beratnya kondisi dan kemungkinan untuk hidup.

Hasil Penelitian Ungkap Orang Tanpa Gejala Jadi Ancaman Penyebaran Virus Corona

Dengan penelitian ini, maka akan menambah informasi yang berpotensi menjadi penanda untuk membantu mengidentifikasi pasien mana yang perlu dirawat dengan segera, dan yang tidak memungkinkan.

"Memiliki indikator awal di mana pasien dapat memburuk lebih cepat akan membantu kami menyediakan tingkat perawatan terbaik secepat mungkin," katanya.

Adapun selama periode penelitian, di bawah 27 persen dari kelompok Covid-19 meninggal dunia, sedangkan pada kelompok non-COVID-19 hanya di bawah 7 persen yang meninggal dunia.

Profesor Dhillo dan timnya berharap temuan mereka ini dapat divalidasi dalam studi klinis skala yang lebih besar.

Penelitian tentang hormon stres memengaruhi risiko kematian pasien Covid-19 ini telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology, serta didanai oleh National Institute for Health Research (NIHR) dan Medical Research Council.(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Studi: Hormon Stres Pasien Covid-19 Tinggi, Risiko Kematian Makin Besar"

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Studi: Hormon Stres Pasien Covid-19 Tinggi, Risiko Kematian Makin Besar"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved