Jenderal Haftar Tertipu Tentara Bayaran dan Makelar Senjata Asing
Ia kehilangan tak kurang 35 juta dolar AS untuk pembelian aneka peralatan militer yang tidak pernah berwujud sampai hari ini.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Ia pernah memesan helikopter serbu, pesawat pengintai, dan kapal patroli lepas pantai lewat agen asing. Uang sudah dibayarkan, tetapi pesanannya tidak pernah ada wujudnya.
PBB juga telah merilis laporan perihal konflik di Libya. Laporan-laporan tersebut menjelaskan Libya dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi palagan perang yang sangat kompleks.
Tempat tentara bayaran dan proxy internasional berkeliaran. Embargo senjata yang diterapkan PBB tidak ada artinya.
Turki mengirim pasukan, menerbangkan milisi Suriah, pesawat tempur, kendaraan militer dan sistem anti-pesawat ke GNA yang berbasis di Tripoli.
• Jenderal Haftar Minta Rusia Dirikan Pangkalan di Libya
Rusia dan UEA juga melakukan hal sama. Memasok senjata dan peralatan tempur, termasuk Mesir. Pihak-pihak yang disebut membantah tuduhan itu.
Kubu Haftar, juga membantah laporan ini. Kepada The Independent, seorang komandan operasi LNA mengatakan, klaim itu propaganda yang disebarkan GNA.
Penyelidikan rahasia PBB baru-baru ini melaporkan kehadiran tim terdiri dari 20 tentara bayaran asing, termasuk lima warga Inggris (dua dari mereka mantan Marinir Kerajaan), 12 warga Afrika Selatan, dua warga Australia, dan seorang Amerika di Libya.
Mereka dibayar lebih dari $ 120.000 setiap bulan. Mereka ditugaskan membuat blokade laut, guna mencegah pengiriman senjata dari Turki.
Selama pekerjaan tiga bulan, tim dilaporkan diharapkan untuk melacak dan mencari kapal-kapal pembawa senjata dari Turki.
Menurut dua sumber diplomatik yang mengetahui laporan Komite Sanksi Dewan Keamanan PBB pada Februari 2020, para prajurit bayaran itu kabur ke Malta pada Juni 2020.
Mereka menggunakan dua perahu karet kaku (RHIB), hanya beberapa hari setelah mendarat di Libya timur.
Di pulau itu, mereka secara singkat ditahan otoritas Malta yang mengatakan RHIB disewa oleh perusahaan Malta, Sovereign Charters.
Pemiliknya, James Fenech, didakwa pada April 2020 karena menyewakan kapal yang melanggar sanksi Uni Eropa terhadap Libya.
Para diplomat mengatakan kepada The Independent, pertikaian terjadi antara kelompok itu dan Haftar, yang geram karena nilai perangkat keras dan layanan militer yang diberikan berjumlah sedikit lebih dari perkiraan $ 30 juta, dari $ 80 juta yang dibayarkan.
Para diplomat menambahkan, Haftar bersumpah akan membalas wanprestasi itu. Karena mengkhawatirkan nyawa mereka, kelompok itu akhirnya kabur meninggalkan Libya timur ke Malta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jenderal-haftar-klaim-tembak-jatuh-pesawat-turki.jpg)