Mesir Kirim Tank ke Perbatasan Libya, Rusia Lipatgandakan Dukungan ke Pasukan Haftar

Divisi ke-3 Angkatan Darat Mesir mengirimkan puluhan tank, kendaraan tempur, dan prajuritnya ke perbatasan Mesir-Libya

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Al Jazeera
Pasukan Jenderal Khalifa Haftar 

TRIBUNJOGJA.COM, TRIPOLI –  Divisi ke-3 Angkatan Darat Mesir mengirimkan puluhan tank, kendaraan tempur, dan prajuritnya ke perbatasan Mesir-Libya.

Pergeseran skuadron tempur darat itu berlangsung sejak Minggu (6/6/2020) menyusul direbutnya pangkalan Al Watiya dekat perbatasan Tunisia, oleh pasukan GNA yang didukung Turki dan berbagai negara.

Pasukan GNA dan Turki menyita sistem arhanud Pantsir S1, helicopter, dan menduduki pangkalan militer yang semula digunakan basis kontraktor keamanan Wagner dari Rusia.

Pasukan Haftar yang Kepung Tripoli Libya Umumkan Gencatan Senjata

Dikutip CNN, Rabu (10/6/2020), pasukan bayaran Wagner akhirnya mundur jauh ke dalam wilayah Libya yang dikontrol pasukan LNA pimpinan Marsekal Khalifa Haftar.

Rusia berulang membantah kehadiran paramiliter atau tentara bayaran asal negara mereka di Libya. Namun Moskow yak menyembunyikan dukungannya pada Haftar.

Lepasnya pangkalan al Watiya, pada 18 Mei 2020 ke tangan GNA dan pasukan Turki, diikuti mundurnya pasukan Haftar dari bandara Tripoli dan kota Tarhouna, pijakan terakhir mereka di Libya barat.

Pasukan Jenderal Haftar Siapkan Serangan Pamungkas untuk Merebut Ibukota Tripoli

Kelompok Haftar memperoleh dukungan kuat dari Uni Emirat Arab, Mesir, dan Rusia. Sementara GNA didukung terbuka Turki, diakui PBB dan banyak negara lain.

Kini, Rusia dikabarkan telah mendrop sejumlah pesawat tempur di pangkalan terpencil di tengah gurun Libya timur. Pesawat diterbangkan dari Suriah.

Kabar itu diklaim Komando Afrika AS (AFRICOM). Armada AS di Afrika itu mengatakan ada 14 MiG-29 dan Su-24, telah terbang dari Rusia melalui Iran dan Suriah.

AFRICOM mengatakan pesawat itu kemungkinan akan memberikan dukungan udara bagi kelompok milisi Wagner dan Haftar.

Memahami Konflik Libya : Mesir dan Saudi Cegah Bercokolnya Ikhwanul Muslimin di Libya

Sebagian besar tampaknya berada di pangkalan al Jufra jauh di dalam gurun Libya tengah. Citra satelit menunjukkan operasi dukungan yang luas, termasuk rudal permukaan ke udara.

Presiden Vladimir Putin memiliki akses ke dua pangkalan udara di Libya, memperkuat kehadiran Rusia yang berkembang di sekitar Mediterania.

Perkembangan ini memaksa Washington meminta Rusia dan aktor asing keluar dari Libya.

Komandan AFRICOM, Jenderal Stephen Townsend, mengatakan Rusia memperluas jejak militer mereka di Afrika menggunakan kelompok tentara bayaran yang didukung pemerintah.

Kremlin belum berkomentar kecuali ketua komite pertahanan di majelis tinggi parlemen Rusia. Viktor Bondarev.

Klaim AFRICOM menurut Bondarev bodoh dan mengatakan apa yang dilihat itu pesawat Soviet lama dari tempat lain di Afrika.

Di luar konteks Libya, AFRICOM mengatakan kepada CNN, jika Rusia diizinkan secara efektif menentukan hasil akhir konflik Libya, AS, dan terutama NATO dan Eropa, tidak akan menyukai hasilnya.

Tobias Borck, Associate Fellow di Royal United Services Institute di London, mengatakan pangkalan udara Rusia di Mediterania selatan  adalah masalah strategis.

Seorang diplomat senior barat mengatakan dia terkejut dengan tindakan Moskow.

"Bahwa intervensi Rusia beralih dari tentara bayaran di darat ke pesawat jet benar-benar sangat mencengangkan dan mencengangkan," kata diplomat itu kepada CNN.

Namun demikian secara historis ini dianggap permainan lama Kremlin.

Sejak 2014, ketika pasukan Rusia yang menyamar sebagai "pemberontak" memasuki Ukraina bagian timur dan membantu mencaplok Crimea.

Kremlin telah menggunakan proksi dan menyamar menjadi tentara reguler sebagai penunjuk jalan menuju keuntungan strategis.

Dari September 2015 penasihat Rusia, jet tempur, kelompok Wagner dan pasukan reguler dikirim untuk mendukung Presiden Bashar al-Assad di Suriah.

Kremlin sekarang memiliki jejak militer permanen dan banyak diperluas di Suriah, yang mampu memproyeksikan akses kekuasaan ke Mediterania.(Tribunjogja.com/ CNN/xna)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved