Internasional
Pasukan Haftar yang Kepung Tripoli Libya Umumkan Gencatan Senjata
Tentara Nasional Libya (LNA) mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk menghindari pertumpahan darah pada akhir bulan Ramadan.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, BEIRUT - Tentara Nasional Libya (LNA) mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk menghindari pertumpahan darah pada akhir bulan Ramadan.
Juru bicara Tentara Nasional Libya, Ahmad Al-Mismari, mengatakan pasukannya memutuskan untuk menjauh dari Tripoli, ibukota Libya, pada jarak 2 hingga 3 kilometer di semua front.
Dalam pernyataannya Rabu (20/5/2020), Al-Mismari mengatakan gencatan senjata ini memungkinkan warga di Tripoli bergerak bebas pada akhir Ramadhan dan selama Idul Fitri.
Pasukan yang dipimpin Marsekal Khalifa Haftar ini akan mulai memindahkan posisi mereka di beberapa bagian kota mulai Rabu malam ini.
• Pejabat Emirat ke Sudan, Diduga Rekrut Petempur untuk Dikirim ke Libya
Gencatan senjata ini merupakan perkembangan menarik setelah pasukan Haftar kehilangan Pangkalan Udara Al-Watiya di dekat perbatasan Tunisia.
Pangkalan itu jatuh ke tangan kelompok Government National Accord (GNA) pimpinan Faisal Saraj, yang didukung penuh Turki.
Pangkalan Udara Al Watiya direbut GNA setelah terlibat pertempuran selama sebulan penuh melawan LNA yang memperoleh dukungan Mesir dan Emirat Arab.
Selain menguasai pangkalan udara penting itu, pasukan GNA menyita helicopter Mi-35 produk Rusia dan sistem arhanud Pantsir S1 yang semula digunakan pasukan LNA.
Sepanjang April 2020, pasukan GNA meluncurkan serangan besar-besaran di bagian barat Libya, merebut beberapa daerah penting dari tangan LNA.
• Ribuan Eks Petempur Suriah di Libya Diam-diam Menyusup ke Eropa
Libya jatuh dalam perang saudara dan kekacauan berdarah sejak militer NATO menggempur negara itu dan menginisiasi penghancuran pemerintah Muammaf Khadaffi pada 2011.
Khadaffi yang memimpin Libya sejak 1969 terjungkal. Ia tertangkap saat hendak melarikan diri dari Tripoli, disiksa dan akhirnya ditembak mati milisi yang menangkapnya.
Setelah sekian lama berkonflik, muncul dua faksi besar, LNA dan GNA. Kelompok GNA diakui PBB dan banyak negara, dan membentuk pemerintahan berpusat di Tripoli.
Sementara LNA merintis kekuatan dengan dukungan Mesir, Emirat, Rusia, Iran dan beberapa negara lain.(Tribunjogja.com/AMN/xna)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pasukan-haftar-yang-kepung-tripoli-libya-umumkan-gencatan-senjata.jpg)