Pejabat Emirat ke Sudan, Diduga Rekrut Petempur untuk Dikirim ke Libya

Pejabat Emirat ke Sudan, Diduga Rekrut Petempur untuk Dikirim ke Libya

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Hari Susmayanti

TRIBUNJOGJA.COM, KHARTOUM - Beberapa pejabat tinggi Uni Emirat Arab (UEA) mengunjungi Khartoum, ibukota Sudan untuk menggalang dukungan dan merekrut petempur untuk membantu kelompok Khalifa Haftar di Libya.

Informasi ini diwartakan Al Jazeera yang berbasis di Doha, Qatar, Kamis (30/4/2020). Belum ada konfirmasi dari klarifikasi resmi dari pemerintah UEA terkait kabar misi ke Sudan ini.

Menurut Aljazeera, dua pesawat, satu bertuliskan Manchester City Football Club, mendarat di Khartoum pada hari Rabu (29/4/2020), dan kembali ke Abu Dhabi lima jam kemudian.

Delegasi tersebut, yang dipimpin Penasihat Keamanan Nasional UEA Tahnoun bin Zayed, membahas cara-cara mendukung Haftar. Langkah ini dilakukan menyusul kabar kemunduran Tentara Nasional Libya dalam upayanya merebut ibukota Libya, Tripoli.

Haftar meluncurkan ofensifnya di Tripoli pada April 2019. Pasukan yang dipimpin tokoh beusia 76 tahun itu terhenti oleh perlawanan kelompok Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB.

GNA didukung pasukan Turki yang mengerahkan drone serta perlengkapan tempurnya ke Libya.

Sumber Al Jazeera menyebutkan, pesawat lain yang membawa sejumlah pejabat tinggi Emirat telah tiba pada hari Sabtu, menghabiskan dua jam di Khartoum, sebelum berangkat ke Chad.

Dalam laporan setebal 376 halaman yang diserahkan kepada Dewan Keamanan PBB pada bulan Desember, sebuah panel ahli memperingatkan kehadiran pejuang Sudan di Libya.

Menlu Rusia Sergei Lavrov Kecewa Atas Sikap Barat Hadapi Covid-19

Diperkirakan antara 1.000 dan 3.000 warga Sudan, telah menjadi factor penting konflik Libya. Kehadiran mereka dianggap berisiko mendestabilisasi negara.

Pada Januari tahun ini, pemerintah Sudan mengatakan akan memeriksa kasus yang melibatkan orang-orang Sudan yang ditipu untuk menjaga instalasi minyak Libya oleh perusahaan keamanan UEA.

Sebaliknya, kehadiran pasukan Turki di Libya juga disertai ribuan petempur sipil asal Suriah. Mereka dikerahkan pemerintah Erdogan untuk bertempur di sisi GNA melawan pasukan Haftar.

UEA dan Mesir di sisi lain, secara terbuka mendukung kelompok Haftar dalam perang saudara di Libya. Tak hanya dukungan politik, UEA juga memasok logistic serta persenjataan bagi kelompok bersenjata tersebut.

Bahkan, UEA juga menerjunkan pesawat nirawak dalam peperangan. Rabu kemarin, muncul laporan lama, serangan pesawat tak berawak UEA menyasar pabrik biskuit dekat ibukota Libya, Tripoli.

Serangan berlangsung 18 November 2019, menewaskan delapan warga sipil dan melukai 27 lainnya.

Laporan diterbitkan Human Rights Watch (HRW). Kelompok pemantau hak asasi itu menyebutkan, UEA tampaknya mengambil sedikit atau tidak ada tindakan untuk meminimalkan korban sipil dan meminta pihak berwenang Emirat untuk melakukan penyelidikan transparan atas insiden tersebut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved