Update Corona di DI Yogyakarta
Terdampak Covid-19, Penarik Becak Memohon Bantuan Pengguna Jalan di Sleman
Hal ini terpaksa mereka lakukan karena merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan di tengah himpitan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Penulis: Irvan Riyadi | Editor: Gaya Lufityanti
Sulitnya keadaan yang sedang dialami, pada dasarnya juga dialami banyak orang di luar sana.
Namun bagi mereka, meski dianggap memalukan dengan memelas iba pengguna jalan, demi keluarga apapun dilakukan.
“Mending begini, kebutuhan perut butuh cepat. Putus urat malu kami, tapi yang penting kami tidak jadi orang jahat saja,” tutur Pardi.
Disambung oleh Ronal, rekan sesama penarik becak yang mengajak serta anak istrinya, selain untuk tetap bersama, juga untuk menjaga hubungan baiknya dengan sang istri.
“Istri saya ajak, biar percaya kalau memang suami sedang sulit. Selama ini selalu bertanya-tanya kenapa pulang tidak bawa uang,” ujar Ronal lirih.
Di beberapa tempat, sebenarnya banyak para dermawan yang hampir setiap hari membagikan rezekinya kepada orang-orang yang membutuhkan, khususnya selama ramadan ini.
Selain itu, pemerintah pun sudah menyiapkan bantuan-bantuan untuk memenuhi kebutuhan mendesak bagi warga yang terdampak covid secara ekonomi.
Namun Pardi menuturkan, sampai saat ini mereka belum tersentuh sama sekali.
• Terkena PHK Karena Corona, Dul Bersama Istri dan Anaknya Terpaksa Tinggal di Becak Setiap Hari
“Mungkin karena kami sebagian besar belum terdata. Sementara kebutuhan perut itu mendesak setiap hari,” imbuh Pardi.
Di sisi lain, apa yang dilakukan oleh orang-orang seperti Pardi, bagi sebagian orang, rentan dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung-jawab, yang hanya memanfaatkan keadaan orang-orang yang susah dan iba para dermawan.
Menanggap ihal itu, Pardi menegaskan tidak begitu mempedulikan.
Ia menyatakan jika apa yang ia bersama rekan-rekannya lakukan, merupakan inisiatif kolektif dan benar-benar atas kebutuhan mendesak.
“Mungkin ada yang seperti itu. Tapi kami semua adalah becak resmi, ada komunitas. Tapi tidak bisa apa-apa, karena semuanya di komunitas juga susah. Kami hanya ber-enam, kalau kami orang jahat, gampang menemukan kami. Intinya kami sedang susah, aksi di jalan begini, untuk makan saja sudah syukur, belum lagi untuk uang kos. Putus urat malu kami, asal kami tidak jadi orang jahat saja, tidak apa-apa,” pungkas Pardi, suaranya bergetar menekankan keadaannya.
Ia pun berharap, ada perhatian dari pemerintah serta pengguna jalan yang dermawan atas nasib yang mereka alami. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/terdampak-covid-19-penarik-becak-memohonbantuan-pengguna-jalan-di-sleman.jpg)