Permintaan Merosot, Peternak Ayam di Yogyakarta Merugi Puluhan Juta Rupiah
Permintaan daging ayam di pasaran wilayah Yogyakarta menurun sejak bulan Maret hingga saat ini
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
"Karena adanya virus Corona ini sangat berpengaruh bagi kami sebagai peternak dan mitra peternak," ungkapnya.
Sementara untuk saat ini, harga Batas Bawah miliknya, untuk satu ekornya dihargai Rp 14 hingga Rp 15 ribu. Sementara kontrak dari PT seharusnya mencapai Rp 18 hingga Rp 19 ribu.
Rohmadi mengatakan, untuk saat ini dalam satu bulan, Rohmadi hanya bisa mengirim ke distributor sebanyak satu kali.
"Padahal biasanya setiap minggu saya selalu kirim. Tapi sekarang sepi, tentu ini menjadi beban bagi kami," ujarnya.
Sementara itu, kondisi di pedagang ayam potong dibeberapa pasar misalnya Pasar Kranggan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta sampai saat ini masih sepi pengunjung.
Salah seorang pedagang ayam, Pariyatin mengungkapkan, harga ayam potong dari peternak memang Rp 14 ribu. Akan tetapi, dirinya menjual ayam yang sudah dipotong seharga Rp 28 hingga Rp 30 ribu perkilonya, sesuai harga standar pada umumnya.
"Ya mau bagaimana lagi, pasarnya sepi. Saya biasanya 70 potong habis, sekarang hanya 40 potong saja hanya laku 20 ekor," ungkapnya.
Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Yogyakarta, Yunianto Dwisutono, menyampaikan bukan hanya peternak atau pedagang ayam saja yang mengalami paceklik ekonomi.
Ia mengatakan, butuh waktu yang cukup lama untuk memperbaiki kondisi ekonomi saat ini.
Meski dari pemerintah pusat sudah merencanakan solusi berupa pemangkasan pemeliharaan, akan tetapi, menurutnya proses kajian perlu dilakukan dari bawah.
"Saya kira wajar, karena konsumsi pangan khususnya ayam, untuk saat ini hanya rumah tangga saja. Sementara hotel, restoran semua tutup. Jadi kondisi serba susah ini dialami oleh banyak kalangan," katanya.
Ia menganggap, kondisi pedagang saat ini merupakan efek multiplier dari pandemi Covid-19 khususnya di Kota Yogyakarta.
Namun, terkait kesesuaian harga, Disperindag tidak bisa memungkiri jika beberapa pedagang masih menerapkan harga standar, sementara harga dari batas bawah peternak mengalami penurunan.
"Itu memang sedang kami koordinasikan dengan pemda DIY. Bagaimana solusinya, khususnya dari para peternak. Karena kemarin juga sempat ratusan ayam kami bagi-bagikan karena pasokan surplus," pungkasnya.(hda)