Permintaan Merosot, Peternak Ayam di Yogyakarta Merugi Puluhan Juta Rupiah
Permintaan daging ayam di pasaran wilayah Yogyakarta menurun sejak bulan Maret hingga saat ini
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
"Banyak dari PT itu tutup. Biasanya kan dari PT pesen misalkan 3 ribu, itu sudah termasuk biaya pakan mereka yang nanggung. Harga Rp18 ribu itu sudah termasuk pemotongan biaya pakan," ungkapnya.
Untuk saat ini, menurutnya pihak PT atau mitra mampu membeli ayam-ayam ternak miliknya, hanya saja pihak PT tak ingin merugi jika harus membeli pakan.
Tawar menawar harga antara peternak pun harus dialami. Banyak dari para mitra ini kemudian membatalkan pesanan.
Pardi mengkalkulasi, kerugian yang harus diambil akibat kondisi pandemi seperti saat ini, untuk ayam siap jual sebanyak 5000 ekor biasanya ia bisa meraup untung hingga Rp90 juta.
Akan tetapi, di kondisi saat ini, dengan harga batas bawah mencapai Rp 8 ribu, dirinya harus menerima pemasukan Rp 40 juta.
"Itu pun belum termasuk pakan untuk tiga hingga empat bulan ke depan karena tak ada suplai, karena harga jual tak laku di PT," ujarnya.
Sementara itu, lanjut dia, untuk harga pakan dipasaran untuk satu kilonya seharga Rp 6 ribu.
Itu artinya, masih Kata Pardi, untuk satu ekor ayam dengan bobot 2 kilogram butuh biaya pakan Rp 12 ribu.
"Tinggal dikalikan saja dengan 5000 ekor ayam, ya ketemunya bisa Rp 60 juta untuk biaya pakannya saja," ungkapnya.
Ia berharap, Pemerintah segera mengambil kebijakan untuk menyikapi situasi seperti saat ini. Pihaknya menginginkan supaya semua harga, baik itu dari Peternak, Mitra, hingga di Pasar harus seimbang.
"Karena dimasa sekarang ini banyak yang memainkan harga, kami yang di batas bawah yang terkeba imbasnya," imbuh dia.
Terpisah, salah seorang Mitra pemasaran ayam ternak, Rohmadi (34) mengatakan, sebagai mitra dirinya juga merasakan imbas sepinya permintaan pasar.
Menurutnya kondisi di peternak saat ini banyak yang mengalami overload. Imbas terburuknya jika ditemukan kematian ayam potong sebelum siap dipasarkan. Hal lainnya juga biaya produksi para peternak juga tinggi.
"Yang jelas harus ada regulasi, informasinya akan ada pemangkasan pemelihraan dari peternak karena serapan pasarnya sepi,"
Lebih lanjut pria yang juga peternak ini mengatakan, perhatian terhadap ketahanan pangan khususnya daging ayam potong ini betul-betul harus diperhatikan pemerintah.