CATATAN Erupsi Gunung Merapi dan Anak Krakatau Meletus pada Jumat 10 April 2020
Letusan Gunung Anak Krakatau berbarengan dengan letusan Gunung Merapi yang berada di Jawa Tengah dan Yogyakarta, hanya saja Merapi meletus pada Jumat
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Kemudian 3 Maret 2020 terjadi erupsi Merapi setelah relatif mereda di akhir 2019. Pandemi Covid-19 berkembang cepat dan meluas, sementara Merapi meletus lagi pada 27 Maret 2020 dan beberapa hari sesudahnya.
EMPAT FASE
Dijelaskan mantan kepala Balai Penyelidikan Pengembangan dan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, aktivitas Merapi terbagi empat fase.
Yaitu fase relaksasi, fase pengisian dapur magma, fase migrasi, dan fase erupsi magmatis. Fase relaksasi merupakan fase akhir proses erupsi 2010 (post erution proccess) yang berlangsung hingga 2011.
“Aktivitas vulkanik yang menonjol adalah hembusan gas vulkanik, kemudian muncul kubah lava baru yang menandai akhir dari satu siklus erupsi,” jelasnya.
“Kubah lava yang muncul pada fase akhir suatu siklus erupsi akan menutup pipa kepundan Gunung Merapi, sehingga sering disebut sumbat lava,” kata Pak Ban, sapaan akrabnya.
Fase pengisian dapur magma, menurut Subandriyo, muncul setelah terjadi letusan besar. Dapur magma terisi kembali (magma witdrawal). Proses pengisian dapur magma ini berlangsung antara tahun 2012-2014 yang ditandai oleh beberapa kali letusan freatik.
Letusan freatik terjadi akibat unsur volatil (gas vulkanik) yang panas bergerak ke permukaan berinteraksi dengan air tanah sehingga terbentuk tekanan uap secara mendadak.
Oleh karena pipa kepundan tersumbat kubah lava, maka terjadi akumulasi tekanan yang memicu letusan. Ciri utama letusan freatik adalah material yang dilontarkan tidak ada juvenil (material dari magma baru).
Fase migrasi magma, menurut peneliti yang bertahun-tahun “merawat Merapi ini, magma bergerak ke permukaan karena gaya apung, yaitu magma memiliki berat jenis yang lebih rendah dari batuan sekitarnya.
Magma menurutnya dalam bahasa teknis, terdorong ke atas untuk melawan tekanan litostatik.
Karena tekanan litostatik makin kecil ke arah vertikal, sementara makin ke atas mendekati permukaan, unsur volatil akan terlepas sehingga terbentuk tekanan berlebih (excess pressure).
Migrasi magma ke permukaan kata Subandriyo, akan menimbulkan retakan batuan sehingga banyak muncul gempa-gempa vulkanik.
Disamping itu, semakin banyak volume magma yang bermigrasi menimbulkan deformasi permukaan tubuh gunung.
Bahasa sederhanya, tubuh gunung akan membengkak atau menggembung. Fase erupsi magmatis selanjutnya menurut Subandriyo, diawali letusan-letusan minor, yang juga biasa disebut freatik karena kemungkinan terjadi interaksi dengan air tanah.